Logo kotaperwira.com

Wayang Suket Asli Purbalingga Warisan Mbah Gepuk

Kisah Mbah Gepuk dan wayang suket asli Purbalingga perlahan-lahan menghilang. Kecenderungan tersebut berlangsung setelah 12 tahun silam sang pencipta yang bersahaja itu meninggal dunia, meninggalkan wayang suket-wayang suket ciptaannya.

Wayang Suket

Salah satu Wayang Suket hasil rajutan Ikshanuddin

Namun kini tanpa sepengetahuan masyarakat luas, ekspresi kegagahan tokoh dunia pewayangan yang dirajut dari rumput itu muncul kembali. Ya, para tokoh wayang yang dibuat dari rumput yang dirajut itu hadir kembali lewat tangan dua perajin asal Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, Purbalingga. “Selama ini wayang suket di Purbalingga seakan-akan sudah musnah. Padahal, saat ini masih ada yang meneruskan langkah Mbah Gepuk, yakni cucunya, Bodriyanto, dan saya,” ujar Ikshanuddin (33). Lajang asal Desa Bantarbarang, Kecamatan Rembang, yang akrab dipanggil Ikshan itu menuturkan tak pernah belajar secara langsung kepada sang maestro, Mbah Gepuk. Dia hanya terinspirasi untuk membuat karya unik itu setelah melihat wayang suket dan brosur bergambar wayang suket yang masih tersimpan di meja kerja.

Moncer

Kala itu, Ikhsan kecil sering melihat Mbah Gepuk berjualan wayang di tepi jalan raya Desa Bantarbarang. Dia tertarik memperhatikan wayang-wayang yang dirajut dari rumput jenis kasuran buatan kakek berusia 92 tahun itu. “Saat itu saya masih duduk di sekolah dasar. Kaki Gepuk menjual wayang seharga Rp 15.000. Cukup mahal saat itu,” ucap Ikhsan. Dia menuturkan nama Mbah Gepuk makin moncer ketika berpameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta tahun 1995. Wayang suket karya Mbah Gepuk mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat seni Yogyakarta yang telah tumbuh lebih baik.

Tahun berikutnya, Bentara Budaya Jakarta mengundang Mbah Gepuk untuk kembali berpameran. Kali ini bersama Sukasman (alumnus ASRI Yogya, sekarang ISI Yogya) dan Heridono (alumnus ISI Yogya). Keduanya adalah seniman wayang alternatif yang telah melanglangbuana ke berbagai negara. Brosur berisi foto katalog pameran itu sampai ke tangan Iksan yang masih bersekolah di MTs Rembang. Pemuda yang piawai menggambar itu pun mencoba-coba merajut rumput untuk membuat wayang. Dia mencontoh gambar-gambar dalam katalog pameran.

“Saya mencoba berganti media. Jika Mbah Gepuk menggunakan suket (rumput) kasuran, saya memilih rumput yang tumbuh dipinggir jalan di Desa Bantarbarang,” ujarnya. Merajut rumput menjadi wayang ternyata tak semudah membalik telapak tangan. Semula Ikhsan membutuhkan waktu 30 hari untuk menghasilkan tokoh wayang Wisanggeni. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya dia berhasil membuat sebuah wayang dalam waktu antara empat dan sembilan hari. Dan, itu tergantung pada ukuran, besar atau kecil, wayang.

Dia merasa yakin karyanya sudah cukup bagus. Lalu, anak pasangan almarhum Yosowiryo dan Sumini itu pun memublikasikan karya tersebut melalui jejaring sosial. Di luar dugaan, seniman wayang modern asal California, Amerika Serikat, Geoffrey Cormier, melirik wayang suket karyanya. Geoffrey meminta Ikshan mengirimkan contoh wayang buatan tangan tersebut untuk dipresentasikan di hadapan publik, khususnya para perupa di Negeri Paman Sam.

“Saya membuat pameran khusus untuk mengapresiasi wayang suket buatan Ikhsanuddin dan Bodriyanto. Saya menaruh hormat kepada kedua perajin itu,” tulis Geoffrey melalui jejaring sosial. Ya, dosen mata kuliah desain grafis di South Carolina University itu sangat terpukau pada kerumitan karya mereka berdua. Bahkan sebagai penggemar wayang modern, Geoffrey ingin bertandang ke Indonesia untuk belajar cara pembuatan wayang suket. Wayang suket adalah kerajian asli Purbalingga yang mulai terangkat kembali tahun 2011. Karya itu telah didokumentasikan dalam bentuk film dokumenter oleh pelajar SMAN 1 Rembang. Ya, Astri Rakhma Adisty, sang pelajar itu, memfilmkan wayang suket lewat film berjudul Gulma yang Bernilai Guna.

Tags: , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42