Logo kotaperwira.com

Warga Suriname Mencari Kerabat di Tanah Leluhurnya, Purbalingga

Surabaya – Selain dari Indonesia, Kongres Bahasa Jawa V yang berlangsung di Surabaya, 27-30 November, juga diikuti peserta dari mancanegara, di antaranya Suriname. Mereka punya rekam jejak menarik dalam membela kebudayaan Jawa.

Selama ini, negeri leluhur itu hanya terbayang di dalam angan. Meski penasaran, mereka tak pernah bermimpi untuk pulang. Negeri itu begitu jauh, seolah berada di awang-awang.

Namun tidak ada mimpi yang tak mungkin terwujud. Rasa rindu yang begitu kuat mendorong Turidjo Sugino (65), Daglan Sudirijo (65), dan Kartadja Parnet Hendrik mengarungi perjalanan jauh dari Suriname ke Indonesia.

Pada 17 November lalu, untuk kali pertama dalam hidup, mereka menapakkan kaki di tanah leluhur: Jawa. Tentu, mimpi itu tak terwujud dengan sederhana. Mereka rela mengorbankan sebagian harta. Sugino misalnya, membongkar tabungan yang ia kumpulkan dengan tekun selama bertahun-tahun.

Pensiunan pemadam kebakaran itu hanya menyisakan sedikit untuk anak dan istri yang ia tinggalkan. “Saya bukan orang kaya, tapi punya sedikit tabungan. Uang itu berasal dari dana pensiun serta usaha saya menanam jeruk dan mengasah gergaji,” ujar Sugino.

Demikian halnya dengan Daglan. Untuk mengongkosi perjalanannya ke Indonesia, ia menjual mobil Toyota Carina kesayangannya. Belum cukup, Daglan mendapat sokongan dana dari kedua anaknya. Adapun Parnet menggunakan tabungan hasil berjualan makanan di pasar.

Tiga kakek itu datang ke Indonesia bersama Roesman Darmohoetomo (72), guru bahasa Indonesia di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paramaribo dan Peter Legene (55), lelaki keturunan Belanda. Darmohoetomo dan Peter juga warga negara Suriname. Namun, mereka sudah berkali-kali mengunjungi Indonesia.

Selama sebulan, Sugino dan kawan-kawan berkeliling ke banyak tempat, antara lain Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya. Mereka terbantu oleh kenalan Darmohoetomo yang bersedia menyediakan makan, penginapan, dan kendaraan.

Selain menengok tanah leluhur, kedatangan orang-orang Suriname itu sekaligus untuk menghadiri Kongres Bahasa Jawa V yang berlangsung pada 27-30 November di Surabaya.

Usai kongres, mereka berencana mendatangi tempat asal leluhur di Pulau Jawa. Sugino ingin ke Madiun, Daglan ke Jatisaba, Purbalingga. Meski tak yakin bisa menemui kerabat, mereka akan tetap melakukannya.

“Sebelum meninggal, kami ingin melihat negara Indonesia. Sekarang keinginan itu telah terwujud,” ungkap Daglan.

Generasi Kedua

Sugino, Daglan, dan Parnet merupakan generasi kedua imigran asal Jawa di Suriname. Orang tua mereka datang ke negeri kecil di Amerika Selatan itu sebagai kuli kontrak pada masa Hindia Belanda. Lantaran lahir dan besar di sana, Sugino dan kawan-kawan tak begitu mengenal Indonesia ataupun Jawa. Orang tua mereka yang buta huruf tidak banyak bercerita ihwal negeri leluhurnya.

Mirah Karijowikromo, ibu Daglan, hanya bercerita bahwa ia berasal dari sebuah desa di lereng gunung besar di Jawa. Namun dengan bekal keahlian sebagai pembuat peta, Daglan akhirnya berhasil menemukan desa asal sang ibu.

Sugino lebih parah. Lelaki yang mukim di Desa Kuwarasan, Distrik Wanika, Suriname itu hanya tahu Wiro Taruno, ayahnya, berasal dari Madiun. “Bapak saya tidak pernah cerita soal asal-usulnya di Jawa. Dia lebih suka main ceken (judi menggunakan kartu) daripada mendongengi anak-anaknya, ha ha ha,” kata Sugino.

Seperti kita tahu, orang Jawa di Suriname punya ikatan batin yang kuat dengan budaya asalnya. Sebagian masih menjalani laku hidup laiknya masyarakat di Jawa. Sehari-hari mereka makan, berbahasa, dan mengikuti ritual tradisi leluhur.

Namun belakangan ini, kejawaan orang Jawa di Suriname mulai kikis. Anak-anak muda cenderung meninggalkan tradisi yang dianut orang tuanya. Sikap, perilaku, dan cara berpakaian mereka pun lebih menyerupai orang Barat.

Bahkan banyak dari keturunan imigran Jawa di Suriname yang kini tak lagi bisa berbahasa Jawa. Data Institute for Research and Development Suriname menunjukkan, hanya 15 persen dari generasi ke-4 dan ke-5 yang bisa berbahasa Jawa.

“Karena bahasa Jawa tidak dipelajari di sekolah, orang tua lebih suka berkomunikasi dengan anak-anaknya menggunakan bahasa Belanda dan Sranang Togo (bahasa gaul Suriname). Akibatnya, meski hidup, bahasa Jawa mengkis-mengkis,” ujar Darmohoetomo.

Semakin sedikit pengguna Bahasa Jawa di kalangan muda, berpengaruh terhadap sikap keseharian mereka. Kebanyakan anak muda keturunan Jawa di Suriname, kata Darmohoetomo, sudah tak lagi mengenal tata krama.

Kursus Bahasa Jawa di Suriname

Berangkat dari keprihatinan itu, ia sejak tahun 2000 membuka kursus bahasa Indonesia dan bahasa Jawa untuk warga Suriname. Bertempat di KBRI Paramaribo, ia mengajar siapa pun yang ingin mempelajari bahasa dari tanah leluhur tersebut. “Pesertanya memang tidak banyak dan masih didominasi orang tua. Tapi tidak apa-apa, yang penting kami sudah berusaha,” kata Darmohoetomo.

Agar kemampuan berbahasa yang diperoleh dari kursus tidak hilang begitu saja, dibentuk Ikatan Alumni Kursus Bahasa Jawa (IKA-KBJ) dan Ikatan Alumni Kursus Bahasa Indonesia (IKA-KBI). Secara berkala, alumni berkumpul untuk berbicara dalam bahasa Jawa dan Indonesia.

Sugino, Daglan, dan Parnet merupakan anggota IKA-KBI dan IKA-KBJ. Dari kursus itulah mereka menguasai bahasa Indonesia serta mengerti tata bahasa Jawa sesuai yang berlaku di tempat asalnya.

“Selama ini kami menggunakan ejaan Belanda untuk menulis kosa kata bahasa Jawa. Akibatnya, ketika kami berkomunikasi dengan orang Jawa di Indonesia, terutama melalui chatting di internet, sulit nyambung.”

Menurut Darmohoetomo, kemampuan berbahasa Jawa dan Indonesia itu penting bagi warga keturunan Jawa di Suriname. Meski bukan berkebangsaan Indonesia, mereka tetaplah manusia Jawa. “Manusia Jawa itu punya identitas, salah satunya bahasa Jawa. Maka agar tidak kehilangan identitas, kami harus menguasai bahasa Jawa,” tandas Darmohoetomo.

Tags: , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42