Logo kotaperwira.com

Selamatan Bulan Sura di Cagar Budaya Lingga Yoni Kedungbenda

KEMANGKON – Ratusan warga khusyuk mengamini doa-doa yang dirapalkan pemuka agama. Mereka duduk melingkar sebatas pagar keliling kawasan cagar budaya Lingga Yoni Kedungbenda, Kecamatan Kemangkon. Di hadapan mereka ransum berisikan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Di bawah teduh pohon beringin, upacara selamatan rutin tiap bulan Sura dilaksanakan.

Mereka memanjatkan doa keselamatan untuk seisi kampung. Ini telah menjadi tradisi turun-temurun di Kedungbenda. Warga percaya, upacara selamatan ini mampu menangkal kalabendu atau semacam musibah yang menimpa desa mereka.

Pernah Tidak Selametan Terjadi Kematian Beruntun Tanpa Sebab

Kartawireja, sang juru kunci situs Lingga Yoni mengatakan, suatu hari upacara selamatan di Bulan Sura pernah diabaikan warga. Tak berselang lama, wabah melanda desa. Sejak saat itu, warga secara rutin menggelar upacara untuk keselamatan warga desa. “Tanpa sebab, terjadi kematian beruntun. Tapi kalau selametan, biar ada hujan badai, ndilalah desa kita selamat,” kata Kartawireja.

Upacara dipusatkan di Situs Lingga Yoni. Kembang berbagai rupa ditaburkan. Kemenyan dan dupa dinyalakan. Di atas batu yoni, sesaji berupa makanan diletakkan. Di dalamnya terdapat mata air yang dipercaya memiliki daya magis untuk menyembuhkan. “Ini nanti akan penuh lagi,” ujarnya sambil menuangkan untuk warga yang tengah mengantre untuk air ini.

Seusai doa dibacakan, warga peserta upacara selamatan ini menyantap hidangan masing-masing. Sayur urap, oseng kering tempe dan tempe goreng terlihat menjadi menu santapan para peserta upacara. Lauk sederhana ini terasa nikmat saat disantap bersama-sama. Selesai menikmati bekal, warga kembali pulang ke rumah masing-masing.

Dalam upacara ini, empat ekor kambing disembelih. Ini menjadi simbol rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Upacara kemudian dilanjutkan petang hari di mata air Congot, tempat bertemunya aliran Sungai Klawing dan Serayu. Di sini, upacara biasa disebut larung dilakukan dengan menghanyutkan sesaji. “Setelah Magrib kita akan lanjutkan dengan larung,” ujarnya.

Tags: , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42