Logo kotaperwira.com

Sekolah RSBI Diharapkan Tidak Berlaku Eksklusif

PURBALINGGA – Sekolah rintisan bertaraf internasional (RSBI) diminta agar tidak berlaku eksklusif. RSBI mestinya menjadi panutan sekolah lain agar lebih maju. Berbagi resep agar sekolah-sekolah lain untuk setidaknya setara dalam hal kualitas dengan RSBI.

Ini disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Purbalingga, Ishak SPd MPd, saat dihubungi SatelitPost terkait judicial review MK terhadap regulasi yang mengatur RSBI. Menurutnya, RSBI masih diperlukan namun dengan catatan sekolah RSBI harus mengubah paradigma terhadap diri mereka sendiri. “Sekolah RSBI jangan merasa eksklusif. Mestinya menjadi contoh dari sekolah-sekolah lain agar muncul kesetaraan,” katanya, rabu (5/12).

Selain itu, Ishak juga mengusulkan agar nomenklatur RSBI diganti. Gantinya, katanya, bisa sekolah unggulan atau istilah lain yang lebih tepat. “Nomenklaturnya diganti, entah itu sekolah unggulan atau istilah yang lain,” kata Ishak yang juga Ketua PGRI Purbalingga.

Sementara Trijoko, anggota DPP Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) mengatakan, konsep dasar RSBI sebenarnya bagus. Namun, pada tataran implementasi, tidak semua melaksanakan sesuai ide dasar. Ini khususnya di kota-kota besar. “Di kota kecil, karena jumlahnya relatif terbatas, jadi pelaksanaannya bisa tepat sasaran,” katanya.

Ia mengatakan, yang perlu digarisbawahi yaitu jangan sampai sekolah latah mengubah diri menjadi RSBI namun substansinya tidak mengena. Pasalnya, RSBI memiliki kewenangan memungut biaya masyarakat. “Jangan terbawa euforia, tapi substansinya tidak mengena,” katanya.

Ia berharap, pemerintah bisa memberikan perhatian yang sama pada semua sekolah. Keseimbangan anggaran harus sesuai dengan rasio siswa.

Sementara Kepala SMPN 1 Purbalingga, sekolah berstandar internasional, Hartoko Hadi, mengatakan, selama ini sekolah yang dipimpinnya memberlakukan sistim beasiswa silang. Mereka yang mampu memberi sumbangan yang lebih besar. Sementara yang kurang mampu sebagian dibebaskan dari biaya sekolah. “Ada yang bebas baya, ada yang membayar namun dalam jumlah terbatas,” ujarnya.

Ia mengatakan, 20 persen kuota disediakan untuk siswa tak mampu. Untuk memastikan, pihaknya turun ke lapangan mensurvei kondisi ekonomi siswa. “Kita verifikasi langsung ke lapangan,” katanya.

Menurutnya, RSBI juga melahirkan banyak siswa berprestasi. Sederet juara menjadi bukti RSBI mampu mengasilkan output yang lebih baik. “Terbukti berhasil meraih medali perunggu olimpiade internasional, medali perak nasional, dan tidak pernah tidak rangking satu di kabupaten,” ujarnya.

Tags: ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42