Logo kotaperwira.com

Realisasi Ekspor Produk Purbalingga Meningkat

Purbalingga – Realisasi nilai ekspor industri andalan Kabupaten Purbalingga dalam lima tahun terakhir terus mengalami peningkatan. Industri andalan tersebut meliputi rambut dan bulu mata palsu, kayu dan minyak cengkeh.

Menurut Kasi Usaha dan Pengembangan Ekspor pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop), Marta Dwi Hudiyati, realisasi ekspor pada tahun 2010 mencapai Rp 851.016.472.457,80. Nilai itu meningkat dibanding ekspor pada 2005 sebesar Rp 161.316.714.734,40.

Dikatakan, peningkatan nilai ekspor dari tahun ke tahun yang paling mendominasi adalah produk rambut dan bulu mata palsu. Industri itu memiliki prospek cerah. Kondisi ini memicu tumbuh kembangnya perusahaan serupa di kabupaten pro investasi. Perusahaan bahkan, berlomba-lomba memasarkan produksinya untuk bisa menembus pasar ekspor, salah satunya Amerika Serikat. “Produksi ini cukup potensial dan menjanjikan karena pasarnya luas,” katanya.

Sedangkan kayu, lanjut dia, tidak terlalu berkembang karena terkendala bahan baku. Produktifitas industri kayu tergantung dari ketersediaan bahan baku yang digunakan. “Perkembangannya tidak seperti industri rambut. Kontinuitas produksi tergantung dari pasokan bahan baku,” imbuh dia.

Berdasarkan data pada Disperindagkop, industri rambut dan bulu mata palsu sebanyak 20 unit milik PMA dan PMDN, sedangkan perusahaan kayu 7 unit, sedangkan industri minyak cengkeh 1 unit. “Diprediksi realisasi ekspor pada 2011 bisa naik, karena ada beberapa perusahaan baru berdiri dan pemasarannya ke luar negeri,” katanya.

Bahan baku yang digunakan adalah rambut sintetis dan rambut asli. Bahan baku didatangkan dari Negara Jepang, Korea Selatan dan China (rambut sintetik), sedangkan rambut asli didatangkan dari Indonesia, India, Bangladesh, Pakistan, Vietnam dan Hongkong.

Marta Dwi Hudiyati menambahkan, pelaku industri rambut dan bulu mata palsu diminta untuk meningkatkan kualitas produk untuk meningkatkan nilai ekspor pada tahun 2011. “Kualitas nomor satu, jadi harus menjadikan perhatian penting bagi perusahaan. Apalagi risikonya bila barang tidak sesuai dikembalikan tanpa mengganti biaya operasional yang dikeluarkan,” paparnya.

Sementara itu, selain rambut dan bulu mata palsu, kayu maupun minyak cengkeh, ada beberapa produk kerajinan sudah menembus pasar ekspor, meski masih melalui pihak ketiga, salah satunya sapu glagah. Ada keuntungan dan kelemahan memasarkan melalui pihak ketiga. Keuntungannya, produsen tidak menanggung risiko karena produk yang sudah dikirim menjadi tanggungjawab pihak ketiga.

Kelemahannya, mereka menggunakan pihak ketiga karena tidak memiliki pengetahuan ekspor dan tidak mengetahui harga ekspor, karena produsen menggunakan standar harga pasar lokal. Keuntungan penjualan yang diperoleh terbatas karena harga ditentukan oleh eksportir.

“Produses tidak tahu barang yang dikirim itu harganya berapa, karena itu sudah menjadi kewenangan eksportir,” terang Marta.

Kepala Bidang Industri pada Disperindagkop, Drs Agus Purhadi Satyo mengatakan, hampir seluruh produk kerajinan yang diekspor ke luar negeri melalui eksportir dari kota-kota besar di Indonesia. “Meski sudah masuk pasar ekspor tapi tidak dipasarkan sendiri, sehingga keuntungannya pun sedikit,” terangnya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Purbalingga, Saryono mengemukakan, keuntungan yang diperoleh para pelaku UKM yang mengekspor hasil produksinya terbatas karena melalui pihak ketiga. “Harga dikendalikan produk oleh eksportir. Perajin tidak tahu harga yang dijual ke luar negeri,” ujarnya.

Sumber: Suara Merdeka

Tags: , , , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42