Logo kotaperwira.com

Produk Kuku Palsu Purbalingga Mempercantik Jemari Eropa

Purbalingga – Setiap wanita pasti mendambakan tampil cantik. Tak hanya wajah, agar terlihat menawan kuku pun selalu dirawat. Bahkan ada pula yang memakai kuku palsu. Dan, ternyata kuku palsu yang digunakan warga Eropa itu buatan warga Purbalingga.

Ya, selain rambut dan bulu mata palsu, kabupaten tersebut juga memiliki produk unggulan berupa kuku palsu. Produk tersebut banyak digunakan warga Eropa dan Korea Selatan. Lalu bagaimana proses pembuatannya?

Suara mesin pencetak untuk tempat bulu mata palsu pada Jumat (1/7) siang itu memekikkan telinga. Namun, bagi karyawan yang berada di bagian produksi sudah bersahabat dengan kebisingan itu. Bahkan, mereka tak menghiraukannya, malah terkesan menikmatinya.

Para karyawan tetap terlihat serius mengerjakan bidangnya masing-masing. Mereka yang berada di sebelah mesin tampak bergerombol tengah menata hasil cetakan tempat bulu mata palsu yang sudah jadi dan siap dikirim ke bagian finishing.

Sementara pada bagian utara di ruangan yang sama tampak berderet pekerja menyemprot (airbrush) dan melukis (painting) kuku palsu, hingga sampai pada bagian pengemasan. Hampir semua karyawan yang bekerja di sana perempuan.

Ya, itulah aktivitas setiap hari para pekerja bulu mata dan kuku palsu PT Sungshim Internasional. Mereka bekerja sejak pagi hingga sore hari. Bahkan, bila order meningkat, para pekerja itu harus rela pulang malam karena lembur kerja.

Perusahaan kuku palsu itu berdiri sejak 1999. Awalnya, para pekerja hanya mengerjakan penyemprotan dan lukis saja, sedangkan proses produksi kuku palsu masih dikerjakan di Tangerang. Namun seiring waktu banyak warga setempat yang minat bekerja pada bagian produksi kuku palsu. Bahkan, jumlah karyawan mencapai sekitar 300 orang.

Pada 2003, beberapa mesin yang berada di Tangerang mulai di pindah ke Purbalingga. Mesin itu berupa mesin injeksi (mesin pembuat kuku) dan mesin pembuat tempat kuku. Bahan bakunya biji plastik yang didatangkan dari Korea Selatan.

“Di sini produksi kuku palsu berkembang pesat, dan pabrik yang di Tangerang ditutup karena semua peralatannya di pindah ke sini,” kata Asisten Produksi Kuku PT Sunghim International Purbalingga, Teguh Mardianto.

Ada tiga bentuk kuku yang diproduksi PT Sungshim, di antaranya reguler shot, long dan scare. Dari tiga variabel itu dipecah menjadi bermacam-macam jenis. Khusus untuk long dan scare, masuknya ke rumah kecantikan. Kedua variable itu natural dan transparan, karena pemilik rumah kecantikan biasanya memiliki desain sendiri kuku palsu yang dijual ke konsumen akhir.

Sedangkan kuku palsu reguler adalah produk jadi dan melalui proses penyemprotan dan lukis. Lukisan pada kuku palsu itu dominan main di warna dan motif bunga. Desain ini identik dengan kepribadian perempuan. “Kami sudah menciptakan sekitar 500 desain, di antaranya desain simple dan full airbrush,” terangnya.

Kuku palsu buatan warga Purbalingga itu telah di pasarkan ke Eropa dan Asia, seperti Amerika Serikat, Swedia, Belanda, Inggris dan Korea Selatan.

“Kami memang baru fokus ekspor ke Eropa, sedangkan pasar nasional belum digarap,” kata Teguh.

Proses pembuatannya pun menggunakan mesin injeksi. Bahan baku berupa butiran plastik di masukkan ke mesin dan hanya membutuhkan waktu satu jam, sudah jadi cetakan kuku palsu sesuai dengan ukuran jari lentik orang Eropa dan Asia.

Setelah itu baru proses penyemprotan dan lukis kemudian bila sudah selesai masuk pada divisi packing. “Semua proses pembuatannya difokuskan di pabrik. Kami belum mengembangkan menjadi industri rumahan atau plasma seperti produk rambut dan bulu mata palsu. Karena, prosesnya menggunakan mesin. Tenaga manusia hanya untuk penyemprotan dan lukis saja. Itu pun menggunakan kompresor,” jelasnya.

Kepala Bidang Perindustrian pada Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Purbalingga, Agus Purhadi Satyo SH menambahkan, produksi itu tidak bisa dikerjakan di rumah-rumah warga, karena proses produksinya menggunakan mesin injeksi. “Kalau hanya pembuatan variasinya mungkin bisa (di rumah warga), tapi kalau produksinya tidak bisa,” katanya.

Permintaan Pasar Luar Negeri Menurun

Pada 2004 – 2007 order ke luar negeri rata-rata sekitar 400 ribu set per bulan. Namun, pada 2008-2011, tren permintaan pasar luar negeri mengalami penurunan menjadi 150 ribu set per bulan. Penurunan ini imbas dari krisis finansial di Amerika Serikat pada 2008, di sisi lain pangsa pasar kuku palsu untuk konsumen menengah ke atas dan harganya cenderung mahal.

“Kami bahkan pernah tidak menerima order dari Amerika Serikat,” ucapnya.

Jumlah pekerja pun cenderung berkurang. Hingga sekarang pekerjanya yang bukan bagian penyemprotan dan pengemasan sebanyak 75 orang, sedangkan pada divisi mesin 80 orang. “Kuku bukan merupakan kebutuhan pokok jadi ordernya satu tahun sekali,” terang Teguh.

Bagian HRD PT Sungshim, Agus mengakui produksi cenderung menurun karena pangsa pasar cukup terbatas, yakni hanya untuk konsumen menengah ke atas. “Sementara produk ini tidak sekali pakai, sehingga permintaannya cenderung stagnan,” ujarnya.

Menyiasati permasalahan ini, kata Teguh, perusahaan selalu menjaga kualitas produk, cetakan tempat kuku harus bagus, serta penggunaan perpaduan antara warna dan design yang tepat. “Kami juga selalu berinovasi untuk menciptakan produk yang sesuai dengan permintaan konsumen,” kata dia.

Tags: , , , , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42