Logo kotaperwira.com

Petani Cabe dan Kentang Tambah Belanja Pestisida Hingga 50 Persen

Purbalingga – Selama musim hujan belanja pestisida dan fungisida para petani cabe dan kentang di Lereng Gunung Slamet Kabupaten Purbalingga dan Dataran Tinggi Dieng Banjarnegara Jawa Tengah meningkat 50 persen.

“Penambahan pemakaian pestisida dan fungisida tersebut menghindari agar tanaman lebih tahan terhadap serangan jamur selama musim penghujan,” kata Kepala Desa Serang Kecamatan Karangreja Purbalingga, Sugito, Senin (14/11).

Penyebaran penyakit akibat jamur pada musim hujan sangat cepat, sehingga untuk mempertahankan tanaman ancaman dari puso petani harus menambah belanja pestisida hingga 50 persen dari total biaya sarana produksi (saprodi).

Sugito menambahkan, biaya produksi untuk satu hektare lahan tanaman cabe mencapai Rp 70 juta dalam kondisi cuaca normal. Sebanyak 60 persennya digunakan untuk membeli pestisida dan fungisida.

Dengan kondisi curah hujannya tinggi, belanja pestisida ditambah antara 30 – 50 persen dari total biaya saprodi per hektarnya, “Khusus untuk menambah biaya belanja pestisida kita harus menambah modal puluhan juta rupiah lagi,” jelasnya.

Tanaman cabe harus disemprot fungisida dua kali dalam sehari. Jika cuaca bersahabat tanaman hanya disemprot satu kali dalam seminggu. Petani berusaha keras mempertahankan tanamannya sebab harga cabe sedang naik. Harganya Rp 18.000 per kg. Padahal saat ini, sekitar 15 hektare lahan sedang memasuki musim panen.

Diperkirakan akan terus naik hingga Natal nanti. Sebab dengan cuaca seperti ini panen menjadi terhambat produksi menurun. “Sehingga harga cabe pada natal dan tahun baru bisa naik lagi hingga Rp 25.000 per kg,” kata Sugito.

Tingginya curah hujan saat ini menyebabkan ratusan hektar lahan kentang di Dataran Tinggi Dieng Banjarnegara mengalami layu daun, akibat serangan jamur. “Sebagian besar lahan kentang di Desa Karangtengah sudah puso akibat hujan tak kunjung berhenti,” terang Kepala Desa Karangtengah Kecamatan Batur Banjarnegara, Nasrulloh.

Ia menyebutkan, di Batur ada sekitar 800 hektare lahan yang ditanami kentang tersebar di 8 desa. Dari jumlah itu, sekitar 50 persen tanamannya mengalami puso. “Rusak terserang daun cendawan,” imbuhnya.

Kerugian petani sangat tinggi, sebab biaya operasional penanaman kentang, hingga umur 50 hari mencapai Rp 50 juta per ha. Saat ini lahan yang belum puso dipertahankan dengan menambah pestisida atau harus menambah sekitar Rp 25 juta untuk membeli pestisida dan fungisida. “Penyemprotan pestisida dan fungisida harus ditambah menjadi dua hari sekali,” jelas Nasrollah.

Tags: , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42