Logo kotaperwira.com

Perfilman Purbalingga, Dari Sekolah Hingga Film Hollywood

Purbalingga – Tahun 2004 mungkin menjadi tonggak sejarah yang patut dikenang oleh pegiat film di Kabupaten Purbalingga. Pada tahun itu, film pendek pertama Purbalingga yang disutradarai Bowo Leksono, Peronika, menjadi salah satu dari 12 unggulan film pendek di ajang Festival Film Indonesia (FFI).

Padahal, pada masa itu produksi film pendek praktis hanya berkembang di kota-kota besar di Indonesia yang mempunyai akses informasi dan jaringan kuat. Prestasi itu diĀ­sempurnakan enam tahun kemudian lewat film Pigura karya siswa SMPN 4 Satu Atap Karangmoncol, Darti dan M Yasin, yang meraih Penghargaan Khusus Dewan Juri Festival Film Indonesia (FFI) 2010.

Sebelumnya, SMP ini termasuk sekolah yang minim fasilitas. Selama ini sekolah itu juga dipandang dengan sebelah mata. Pegiat film sekaligus pembimbing kegiatan ekstrakurikuler film, Aris Prasetyo, mengemukakan pengembangan film pendek di sekolah tersebut kini menjadi salah satu media penarik bagi calon siswa.

Dengan media film itu pula, sekolah tersebut berupaya menunjukkan kemampuan bakat anak didik yang tak kalah dari siswa di kota-kota.

“Pemutaran karya tersebut yang ditonton bersama-sama dengan warga masyarakat menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk bisa menunjukkan kreativitas di hadapan masyarakat,” kata sarjana lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta itu.

Berdasar survei kecil-kecilan yang dilakukan, Aris mencatat 48 dari 86 siswa di sekolah itu memiliki minat besar untuk membuat film. Namun dia mengakui potensi tersebut masih butuh fasilitas dari pemerintah dengan jaminan keberlangsungan tingkat kependidikan anak yang lebih tinggi lagi.

“Sebenarnya media film cukup efektif untuk mengajak anak di wilayah kami mau bersekolah. Mungkin kalau tidak ada Mas Bowo (Bowo Leksono-Red) yang memulai lewat pembuatan film pendek, minat untuk bersekolah tidak ada,” kata lelaki yang mulai membimbing kegiatan ekstrakurikuler film sejak 2008 tersebut.

Direktur Cinema Lovers Community (CLC) Bowo Leksono mengemukakan atmosfer pengembangan film pendek di Purbalingga sebenarnya berasal dari berbagai kantong produksi film pendek, terutama di wilayah Jakarta, Yogyakarta, serta Purwokerto.

Saat itu dia tidak pernah berpikir untuk menjadikan Purbalingga sebagai salah satu “pusat” film pendek.

“Kami berkreativitas dulu lewat media film pendek, setelah itu baru melihat animo masyarakat. Ternyata pada tahun-tahun awal, respons masyarakat sangat besar. Kami pun berusaha mengembangkan deĀ­ngan memberdayakan kaum muda di Purbalingga,” kata Bowo.

Merangsang

Rangsangan itu kemudian dia tawarkan ke beberapa sekolah di Purbalingga. Namun respons yang muncul saat itu masih negatif. Bermodal kenekatan, CLC pun mendekati beberapa pelajar untuk menggelar pelatihan membuat film.

Saat itulah muncul gerakan “Sinema Gerilya” yang dilakukan CLC. Hasilnya, generasi muda pembuat film pendek pun bermunculan.

“Saat sekolah menolak, kami hanya berupaya pelajar ‘harus diselamatkan’ dalam menyalurkan kreativitas. Karena, terus terang di sini hanya ada sekolah-sekolah yang sebenarnya memiliki potensi tersebut,” tutur pria yang sampai kini masih aktif memberikan pelatihan-pelatihan pembuatan film itu.

Alhasil, buah proses tersebut menghasilkan 101 judul film pendek yang diproduksi sejak 2004 sampai 2011. Dari keseluruhan karya itu, sekitar 30 film berhasil menjadi film unggulan dan beberapa menjadi pemenang di berbagai festival film pendek di Indonesia.

Dari generasi “Sinema Gerilya” itu pula lahir beberapa pemuda yang kemudian bergabung dengan CLC. Mereka pun kemudian berkiprah dalam dunia layar lebar.

Salah satu di antara mereka adalah Nanki Nirmanto yang pernah menjadi asisten produksi dalam film layar lebar Sang Penari.

Bahkan Nanki kini juga terlibat dalam pembuatan film yang dibintangi beberapa artis kenamaan Hollywood, yakni fim The Philosopher.

“Keterlibatan dalam sejumlah produksi layar lebar bermula dari aktivitas dalam komunitas film pendek. Aku bisa diajak oleh teman di jaringan film untuk terlibat dalam produksi layar lebar. Dari keterlibatan dalam pembuatan film layar lebar itu otomatis mendapatkan keuntungan berupa pengalaman dan tentu honorarium,” ujar mahasiswa Jurusan Ilmu Politik Unsoed itu.

Pengalaman yang sama dirasakan Asep Triyatno yang kini aktif di CLC. Pria asal Bobotsari itu pun terlibat pembuatan film layar lebar yang diproduseri Nia Dinata dan Hanna Carol, yakni Langit Biru, yang sudah dirilis beberapa waktu lalu. Keuntungan tersebut, kata Asep, bukan menjadi tujuan final yang ingin dicapai.

Baik Asep maupun Nanki merasakan kegairahan pembuatan film pendek di Purbalingga harus tetap dijaga. Asep menyatakan masih perlu banyak dukungan yang harus diberikan bagi kreativitas kaum muda di Purbalingga.

“Kelangsungan regenerasi pembuat film sebenarnya belum bisa dirasakan maksimal, karena dukungan dari pemerintah masih minim,” kata dia.

Tags: , , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42