Logo kotaperwira.com

Perampok di Majapura Tiru Aksi Penjahat di Film

BOBOTSARI – Keinginan Wyd (29) merampok dan membawa hasil kejahatan berupa uang, tidak kesampaian. Sebagai terdakwa, warga Desa Majapura Kecamatan Bobotsari itu mengaku melakukan kejahatan dengan meniru penjahat yang beraksi seperti di film-film televisi.

Keterangan terdakwa Wyd disampaikan di hadapan majelis hakim PN Purbalingga, yang diketuai M Martin Helmy SH MH, anggota Vilia Sari SH MKn, dan Moch Nur Azizi SH, didampingi Panitera Pengganti Dyah Winanti SH, Rabu (12/9) kemarin.

Untuk melakukan aksi kejahatan di rumah keluarga Yogi Suseno (46), juga warga Majapura, Bobotsari, terdakwa sudah mempersiapkan sarananya sedemikian rupa. Ketika akan menuju rumah korban, terdakwa membawa pisau, sarung tangan, slayer untuk menutup kepala, juga kain penutup muka.

Sebelumnya terdakwa sudah tahu kondisi calon korbannya, Yogi Suseno dan keluarganya. Isteri Yogi, Ana Yuliana (45), yang di rumahnya usaha toko sembako. Selain itu ada dua anaknya, perempuan dan laki-laki. Namun tidak mengira, kalau terdakwa bisa dilumpuhkan oleh Yogi, Ana, dan anak perempuannya, Levita Dianty (15). Saat kejadian Selasa 15 Mei 2012 sekitar pukul 02.00, Yogi sempat berkelahi dengan terdakwa. Isteri Yogi, Ana sempat membantu suaminya dengan cara menggigit terdakwa.

Sementara, anak Yogi, Levita sempat dijambak rambutnya oleh terdakwa karena berusaha menelpon polisi. Levita keluar rumah sambil berteriak minta tolong tetangga. Levita tetap berupaya menelpon polisi.

Perkelahian antara terdakwa dengan Yogi cukup seru, bergumul di lantai dalam keadaan gelap. Yogi maupun terdakwa terkena pisau milik terdakwa. Ana sempat menggigit tangan terdakwa, lalu gantian tangan Ana juga digigit terdakwa. Namun akhirnya terdakwa dapat dilumpuhkan, kemudian ditangkap polisi.

“Saya melakukannya karena kepepet. Punya hutang di sana-sini. Saya kerja di toko sebagai karyawan. Upahnya Rp 700 ribu per bulan. Sasarannya, toko sembako milik Ny Ana, karena suasananya sepi,” kata terdakwa menjawab ketua majelis hakim Martin Helmy.

Menurut terdakwa, memegang pisau sebenarnya hanya untuk menakut-nakuti. Tidak ada niat untuk melukai korban. Karena pisau yang dibawa, ternyata melukai terdakwa juga. Terdakwa menunjukkan bekas luka pada kepala bagian belakang, dan di tangannya. Sumber: Radar Banyumas

Tags: ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42