Logo kotaperwira.com

Perajin Sapu Glagah Tak Lagi Gagah

Namanya sapu glagah. Sapu itu terbuat dari rumput glagah (Saccharum spontanum) yang biasa tumbuh di dataran tinggi. Di Purbalingga, glagah banyak tumbuh di areal Perhutani yang mencapai 900 hektare di Desa Jingkang, Kecamatan Karangjambu. Glagah yang dapat dimanfaatkan adalah tanaman di bagian bunga dan batang. Bunga glagah yang telah kering dapat dirangkai menjadi mahkota sapu.

Pembuatan mahkota sapu dilakukan dengan menjahitnya menggunakan benang nilon atau senar. Setiap bulan, ribuan sapu glagah buatan perajin Purbalingga menyebar ke beberapa daerah di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan DKI. Sementara itu ribuan lain dikirim ke luar negeri, seperti Taiwan, Thailand, Korea, Singapura, Malaysia, dan Jepang. Konsumen di Korea menggemari sapu glagah model rayung. Model itu hampir sebagian besar berbahan glagah, termasuk gagang dari tangkai glagah. Konsumen di Malaysia dan Thailand menyukai model lakop dengan tangkai dari bambu atau kayu yang diikatkan dengan glagah.

Perajin Sapu Glagah Purbalingga

Perajin di desa Kajongan, kecamatan Bojongsari, sedang membuat sapu glagah

Kemunculan kerajinan sapu glagah di Purbalingga memiliki sejarah panjang. Sekitar tahun 1960-an, di Desa Kajongan, Kecamatan Bojongsari, muncul kerajinan sapu di rumah-rumah warga. Waktu itu, bahan baku utama masih berupa ijuk. Sekitar 1970 perajin mulai memakai bahan glagah. Selain lebih murah, glagah juga mudah didapat karena masa panen relatif singkat, yakni setahun sekali. Waktu itu bentuknya pun masih sederhana. Hanya mementingkan fungsinya, tanpa melihat nilai estetisnya. Saat ini paling tidak ada 20 model sapu glagah yang diproduksi para perajin. Sebut saja: sakuran, B1, B2, udang, SMS, jengki, lakop, rayung, dan kipas. Model itu berdasar anyaman tali yang mengikat sapu dengan batangnya. Selain itu glagah pun dibuat warnawarni dengan mencelupkannya ke dalam pewarna tekstil.

Batang sapu pun dibuat lebih kreatif seperti dibungkus dengan plastik mika warna-warni. Perajin dari Desa Munjul, Kecamatan Kutasari, Mudakir, menuturkan kemeledakan sapu glagah terjadi sebelum tahun 2010. Ketika itu dia mempunyai 30-an pekerja. Mereka membantu menyelesaikan pembuatan sapu glagah untuk dipasarkan ke Boyolali, Jakarta, Salatiga, dan Semarang. “Kalau sekarang saya hanya mempekerjakan tujuh orang karena terbentur beberapa kendala,” kata Mudakir yang sudah menggeluti usaha pembuatan sapu selama 25 tahun.

Industri Rumahan

Menurut data Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi, di Purbalingga ada 800 perajin sapu yang tersebar di seluruh pelosok. Mereka merupakan industri rumahan.

Paling banyak di Kecamatan Karangreja yang merupakan sentra penghasil glagah. Kepala Seksi Ekspor Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Dwi Martha mengatakan, sapu glagah merupakan komoditas ekspor yang cukup besar. Namun dinas tidak memiliki data yang pasti berapa ribu sapu yang dikirim ke luar negeri setiap tahun.

Seperti industri kecil lain, kerajinan sapu glagah menghadapi kendala. Dari permasalahan modal hingga persaingan tak sehat antarperajin berkait dengan harga jual. Sebab, tidak ada lembaga yang mewadahi mereka dalam pengaturan harga. Perajin asal Desa Kajongan yang lain, Mohammad Abusalam, menuturkan persaingan tidak sehat itu tampak dari saling banting harga sapu oleh perajin ke pembeli. Tidak ada standar harga antarperajin. Setiap perajin menjual produk, dengan tujuan yang penting laku.

Bahan baku glagah sulit diperoleh Januari-Juli. Sebab, pada masa itu glagah tidak pada masa panen. Glagah baru dapat dipanen Agustus. Saat langka bahan baku, harga glagah melonjak hingga Rp 12.000/kg. Padahal saat panen hanya Rp 6.000/kg. Kepala Seksi Industri Nonagro Bidang Industri Suyono mengemukakan saat bahan baku melimpah pun, para perajin tak mampu membeli banyak karena keterbatasan modal. Ketika bahan baku sedikit, perajin harus mencari ke luar daerah.

Tags: , , , , , ,  , fungsi sapusapu glagah di karawang
Source: Suara Merdeka

Leave a Reply

close(x)
Pasang Iklan