Logo kotaperwira.com

Penantian dan Kecemasan Warga Losari Rembang Akibat Banjir Bandang

Purbalingga – Siang itu Tuharti (50) terlihat duduk lesu menunggu dagangan di teras rumahnya, di Desa Losari RT 10 RW 02, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Kendati demikan, dia tidak sekadar menunggu dagangan tetapi sejumlah perabot yang masih berada di dalam rumah sejak keluarganya mengungsi pada Jumat (4/11) malam.

“Sebagian perabot masih ada di sini, lainnya dititipkan di rumah saudara dan mushala,” kata dia, Sabtu.

Menurut dia, bencana banjir bandang di Sungai Arus yang terjadi satu pekan silam telah memaksa keluarganya mengungsi ke rumah saudara.

Bahkan, pengungsian tersebut tidak hanya dilakukan keluarga penghuni rumah pasangan Saemun (53) dan Tuharti, tetapi juga seluruh keluarga yang menghuni enam rumah lainnya di sekitar jembatan Sungai Arus.

Bencana banjir bandang tersebut memang tidak menghanyutkan tujuh rumah di sekitar jembatan Sungai Arus. Akan tetapi, banjir bandang ini mengakibatkan tujuh rumah mengalami kerusakan parah bersamaan dengan amblesnya fondasi jembatan Sungai Arus.

Selain itu, derasnya air Sungai Arus mengakibatkan tebing yang ditempati tujuh rumah tersebut tergerus sehingga fondasi rumah-rumah tersebut ikut ambles.

“Saat sebagian rumah saya ambles, dari permukaan lantai dapur keluar air, seperti air mancur,” kata Tuharti.

Dia mengaku tidak tahu pasti dari mana asal air yang menyembur dari lantai dapurnya.

“Mungkin di dalam tanah bawah rumah ini terdapat rongga yang terisi air dari sungai sehingga saat fondasinya ambles, airnya langsung muncrat,” katanya.

Terkait musibah tersebut, dia mengaku was-was jika berada di rumah yang tidak mungkin dapat ditempati lagi karena telah banyak retakan di dindingnya. Dia merasa cemas jika suatu saat bencana tersebut kembali terjadi karena di desa ini masih sering terjadi hujan lebat. Oleh karena itu, dia bersama keluarganya untuk sementara mengungsi di rumah saudara.

“Kami juga tidak mungkin tinggal lama di rumah saudara, apalagi cucu saya yang masih berusia tiga tahun sering rewel dan minta pulang. Kalau cucu satunya yang masih lima bulan, belum tahu apa-apa,” katanya.

Berdasarkan informasi yang dia terima, Pemerintah Desa Losari dan Kecamatan Rembang mewacanakan adanya relokasi bagi tujuh rumah di sekitar jembatan Sungai Arus. Namun, kata dia, hingga saat ini belum ada kepastian waktu pelaksanaan relokasi. Malahan, lanjutnya, hingga saat ini pula lahan yang akan dijadikan sebagai tempat relokasi juga masih simpang siur.

“Ada yang bilang akan direlokasi ke Sibadak, ada juga yang bilang di Keputanan. Namun bagi saya, di mana saja tidak masalah karena kalau tetap di sini, rasanya was-was,” katanya.

Terkait hal itu, dia mengharapkan Pemerintah Kabupaten Purbalingga segera melakukan relokasi bagi mereka yang tertimpa bencana. Warga lainnya, Sunarto (40) juga mengharapkan kepastian relokasi terhadap tujuh rumah di sekitar jembatan Sungai Arus.

“Rumah saya sudah dua kali ini terkena banjir bandang. Tahun lalu, bagian dapur terbawa arus banjir bandang, kalau sekarang fondasinya justru ikut ambles dan beberapa kayu penyangga rumah hampir patah,” katanya.

Saat ini, keluarga Sunarto untuk sementara mengungsi di rumah orang tua.

“Sebenarnya saya masih berani tinggal di rumah, namun istri tidak mengizinkan karena khawatir terjadi sesuatu,” katanya.

Menurut dia, rumahnya yang masih berlantaikan tanah sepintas tidak terlihat mengalami kerusakan. Namun jika diperhatikan dengan saksama, kata dia, bangunannya terlihat miring karena sejumlah tiang penyangga turut ambles, bahkan kuda-kuda atap rumah hampir patah.

“Pintu rumah juga sulit dibuka karena gawangnya miring,” katanya.

Dia mengakui, Pemkab Purbalingga telah menyalurkan bantuan tanggap darurat untuk para korban bencana di Desa Losari, antara lain bahan makanan dan peralatan dapur termasuk kebutuhan makanan bagi balita.

Akan tetapi, kata dia, saat ini para korban bencana menanti kepastian pelaksanaan relokasi sehingga mereka tidak lagi merasa cemas di saat turun hujan lebat.

“Setiap kali hujan lebat, kami merasa cemas, khawatir kalau kembali terjadi banjir bandang,” katanya.

Terkait harapan warga untuk direlokasi, Camat Rembang Suwarto mengatakan, wacana relokasi bagi 41 jiwa penghuni tujuh rumah di sekitar jembatan Sungai Arus tersebut telah dimunculkan oleh Pemerintah Desa Losari. Dia mengakui, tujuh rumah di sekitar jembatan Sungai Arus tidak mungkin bisa dihuni karena berisiko tinggi.

“Oleh karena itu, tadi dalam rapat di ruang Sekretaris Daerah Purbalingga, telah diputuskan adanya relokasi bagi tujuh rumah di sekitar jembatan Sungai Arus,” katanya.

Menurut dia, relokasi tersebut akan menggunakan tanah kas Desa Losari di Dusun Sibadak melalui proses tukar guling dengan warga yang akan direlokasi. Ia mengatakan, setiap warga yang rumahnya direlokasi akan mendapatkan lahan minimal seluas 140 meter persegi.

“Namun hal ini akan kami musyawarahkan dulu bersama Kepala Desa Losari dan kepala keluarga dari tujuh rumah yang akan direlokasi, agar terjadi kesepakatan,” katanya.

Ia mengatakan, rumah yang akan direlokasi milik Saemun, Sukei, Sunarto, Sukar, Sumanto, Cahyudi, dan Riyanto.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (Lakhar BPBD) Purbalingga Priyo Satmoko mengatakan, pelaksanaan relokasi akan dilakukan setelah adanya kesepakatan antara warga dengan Pemerintah Desa Losari.

Selain relokasi, kata dia, Pemkab Purbalingga juga akan membangun jembatan darurat di atas Sungai Arus agar lalu lintas dari Desa Gunungwuled menuju pusat Kecamatan Rembang di Desa Losari kembali normal.

Menurut dia, arus transportasi dari Desa Losari menuju Gunungwuled maupun Rajawana, untuk sementara dialihkan melalui jalur alternatif Sumampir-Tanalum-Balong-Gunungwuled yang masih berada di wilayah Rembang.

“Usai rapat di ruang Sekda Purbalingga, kami bersama dinas terkait langsung menuju Losari untuk menentukan titik pembangunan jembatan darurat. Pembangunan jembatan darurat ini akan dilakukan oleh Dinas Pekerjaan Umum,” katanya.

Banjir bandang di Sungai Arus yang terjadi pada hari Jumat (4/11) mengakibatkan jembatan penghubung Desa Losari dan Gunungwuled terputus karena fondasinya tidak mampu menahan derasnya air. Konon, musibah tersebut nyaris memakan korban karena di saat fondasi jembatan mulai ambles, ada seorang siswi sekolah menengah atas yang sedang melintas di atasnya dengan mengendarai sepeda motor.

Nasib mujur dialami pelajar putri yang tidak diketahui namanya tersebut karena dia berhasil melintasi patahan di antara badan jembatan dengan jalan meskipun laju sepeda motornya sempat tidak dapat dikendalikan.

“Sebuah mobil jenis Suzuki Carry juga nyaris terjebak di atas jembatan kalau sopirnya nekat melanjutkan perjalanan. Mobil tersebut berhenti beberapa meter sebelum jembatan dan sopirnya segera memutar arah,” kata Sunarto.

Akibat putusnya jembatan tersebut, arus transportasi dari Desa Losari menuju Gunungwuled maupun Rajawana, untuk sementara dialihkan melalui jalur alternatif Sumampir-Tanalum-Balong-Gunungwuled yang masih berada di wilayah Rembang.

Selain itu, banjir bandang tersebut juga menggerus tanah tebing sungai sehingga tujuh rumah di sekitar jembatan mengalami kerusakan berat akibat fondasinya ambles. Dengan demikian, 41 jiwa penghuni tujuh rumah yang masuk lingkungan RT 10 RW 02 tersebut mengungsi ke rumah saudara mereka.

Tags: , , , , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42