Logo kotaperwira.com

Pedagang Kesulitan Mencari Beras

Banyumas – Hujan sepanjang hari di wilayah Jawa Tengah bagian selatan membuat petani kesulitan untuk proses pengeringan gabah, menyebabkan beras di pasar tradisional di wilayah tersebut semakin sulit dicari. Para pedagang pengecer harus memesan selama berhari-hari di penggilingan bahkan harus berebut dengan ibu rumah tangga.

Salah seorang pengecer beras di Purbalingga Hasta (36) mengaku kesulitan mencari beras di penggilingan padi. Stok yang ada menjadi rebutan para pedagang. “Saya telah memesan sejak lima hari lalu ke tempat penggilingan padi, tetapi stoknya kosong. Hujan yang berlangsung setiap hari menyebabkan petani dan penggilingan kesulitan untuk menjemur gabah. Saya harus menunggu selama lima hari agar bisa mendapatkan beras,” jelasnya.

Hal yang sama disampaikan seorang pedagang di pasar Ajibarang, Kecamatan Ajibarang Banyumas Wartini (52). Dia mengungkapkan kalau untuk mendapatkan pasokan beras harus menunggu selama berhari-hari. Bahkan saat harga beras mahal seperti sekarang ini, banyak ibu rumah tangga langsung membeli beras langsung ke penggilingan, sebab harganya lebih

miring dibanding di pengecer. “Selisihnya cukup lumayan antara Rp 300,00 – Rp 400,00 perkilogramnya, sehingga kita harus berebut dengan ibu rumah tangga di penggilingan. Kalau dulu yang beli hanya pedagang eceran saja,” keluh Wartini.

Secara terpisah, Ketua Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Banyumas Wahyudianto mengakui, kalau proses pengeringan padi mengalami kesulitan karena setiap hari hujan. “Biasanya, untuk mengeringkan padi pada saat terik matahari membutuhkan waktu 1-2 hari saja, tetapi sekarang bisa 5-7 hari. Secara otomatis, pasokan ke pasar juga berkurang,” katanya.

Menurut dia, tidak sedikit petani yang masih panen mengalami kerugian, gabahnya sudah mulai berkecambah. “Tidak sedikit petani yang panen pada saat hujan, sehingga kadar airnya tinggi, jika tidak segera dikeringkan maka dua hari saja gabah akan berkecambah. Akibatnya gabah rusak kalau tetap digiling berasnya hancur,” ungkapnya.

Wahyudianto mengatakan, saat sekarang harga gabah di tingkat petani juga telah tinggi, mencapai Rp4.500 per kilogram (kg) untuk gabah kering giling (GKG). Padahal, harga pembelian Bulog untuk GKG hanya Rp 4.300 per kg. “Tingginya harga gabah karena tidak ada panen, kalau ada hanya sporadis jumlahnya sedikit. Apalagi proses pengeringan juga bertambah lama akibat hujan sehari-hari,” ujar Wahyudianto.

Dikatakan oleh Wahyudianto, para pedagang dari pantura Jawa Barat juga mencari gabah maupun beras sampai ke Banyumas. Karena di wilayah setempat sudah tidak ada yang panen. “Setiap hari, saya juga memasok ke sana sebanyak 1-2 ton beras,” katanya.

Tags: , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42