Logo kotaperwira.com

Nasib Tukang Gigi Yang Tak Boleh Buka Praktik Lagi

BOBOTSARI – Suara bus menderu di Terminal Bobotsari, Purbalingga, Selasa (27/3) siang. Matahari tepat di penggalah. Di barat terminal, seberang jalan, Bakri (56) sedang istirahat sembari menikmati makan siang.

Ia ditemani sepupunya, Zaenal Abidin (26), sambil menunggu seseorang datang ke rumah semi permanen yang berjajar sederhana untuk memperbaiki gigi. Istrinya sedang pulang kampung ke Jember, Jatim sejak sepekan lalu.

Kulit legam Bakri yang terbakar matahari kentara. Sejak 31 tahun silam, ia memilih berprofesi sebagai tukang gigi. Ia mendapatkan keahlian itu dari orang tuanya di Jember.

Awalnya, ia buka praktik di Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang. Lalu ia melalang buana ke Jakarta. Namun, langkah kakinya akhirnya parkir di Kecamatan Bobotsari, Purbalingga pada 2002. Tepatnya di samping Terminal Bus Bobotsari.

“Kadang seminggu tidak ada yang datang, kadang sehari sampai dua orang membetulkan gigi,” kata ayah tiga anak itu kepada Suara Merdeka, membuka percakapan.

Garansi Seumur Hidup

Selama puluhan tahun ia menjalani profesi itu, sedikit sekali pasien yang komplain pada garapannya. Ia menjamin dengan garansi seumur hidup. Artinya, jika ada yang datang minta diperbaiki gigi yang berlubang atau dipasang gigi palsu akan dilayani sampai konsumen puas.

“Jika belum pas, silakan datang lagi. Akan saya perbaiki sampai puas. Tidak usah bayar lagi,” ungkapnya.

Sebab, banyak sekali orang yang datang padanya mengeluh setelah dipasang giginya oleh dokter karena tidak nyaman. Alasan dari dokter karena itu adalah gigi palsu, dan dokter biasanya lepas tangan atau konsumen itu harus mengeluarkan uang lagi untuk diperbaiki.

Ia pun hanya menarik tarif yang murah. Untuk satu gigi palsu dipasang tarif antara Rp 100.000 dan Rp 150.000 tergantung kualitas gigi. Jika hanya tambal saja cukup dengan uang Rp 30.000. Harga yang sangat jauh berbeda ketika harus datang ke dokter gigi.

Dari keahliannya itu ia mampu menyekolahkan anak pertama dan keduanya hingga ke jenjang perguruan tinggi. Kini tanggungannya tinggal anak terakhir yang masih duduk di bangku SMA di Jember.

Kini keahliannya ia turunkan pada sepupunya, Zaenal Abidin. Karena setamat dari SMK, Zaenal tidak memiliki pekerjaan. Ia juga sudah berkeluarga dan memiliki seorang anak berumur empat tahun.

Bakri dan Zaenal kini tengah dilanda galau. Juga puluhan rekan seprofesinya di Kabupaten Purbalingga. Bagaimana tidak, mulai April mendatang pemerintah akan memberlakukan Permenkes No 1871/Menkes/Per/IX/2001 tentang Pencabutan Permenkes No 339/Menkes/Per/V/1989 tentang Pekerjaan Tukang Gigi.

Dalam Permenkes tersebut disebutkan pemerintah tak akan memperpanjang dan membuat izin baru bagi para tukang gigi. Otomatis, para tukang gigi akan terancam mata pencahariannya.

“Pemerintah tidak bisa semena-mena, sebab jika kami dilarang praktik berarti pemerintah sudah bikin pusing lagi masyarakat bawah seperti kami. Kami akan mati pelan-pelan,” kata Bakri.

Ia mengaku hanya memiliki keahlian memperbaiki gigi saja. Jika peraturan itu tetap dilaksanakan, ia tidak dapat membayangkan pekerjaan apalagi yang harus dia lakoni.

“Yang jelas kami tidak setuju. Orang kerja baik-baik kok malah diberhentikan. Kami harus jadi apa? Apa harus jadi pencuri?” imbuh Zaenal.

Belum lagi kenaikan harga BBM yang membuat perekonomian mereka semakin sulit. Kini peraturan dari Menteri Kesehatan itu akan menambah penderitaan Bakri, Zaenal, dan puluhan tukang gigi khususnya di Purbalingga. Lalu siapa yang peduli lagi dengan nasib mereka?

Tags: , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42