Logo kotaperwira.com

Mencintai Batik Lewat Ekstrakurikuler Batik

PURBALINGGA – Lazimnya anak muda menyukai busana yang ngetren. Mereka lebih percaya diri, jika memakai pakaian yang dibeli di distro-distro. Masih jarang remaja yang mau secara sukarela mengenakan baju bercorak tradisional, seperti batik.

Mereka hanya memakai batik saat dijadikan seragam atau diwajibkan oleh sekolah, tapi tidak demikian dengan Puput Tri Yuliantika. Siswi kelas XI AP 2 SMK Negeri 1 Purbalingga itu sangat mencintai batik.

“Saya cinta setengah mati pada batik. Merasa bangga memakainya. Ini cara untuk ikut melestarikan budaya batik. Kalau bukan kita, siapa lagi yang mau melestarikan. Jangan sampai nanti diklaim sama Malaysia, sangat menyakitkan sebagai anak bangsa,” kata dia.

Dibuat Motif

Menurut dia, agar anak muda tidak malu memakai batik, perlu dibuat motif yang mengikuti perkembangan zaman. Sudah tidak zamannya, baju batik melulu warna gelap dengan motif itu-itu saja. Perlu diciptakan warna dan motif yang bisa melambangkan suasana hati.

“Misalnya warna terang melambangkan suasana hati si pemakai sedang gembira dan bahagia. Adapun warna gelap, melambangkan pemakai sedang bersedih atau berduka,” kata anak ketiga dari tiga bersaudara buah hati Sunarjo-Sanep itu.

Karena kecintaan itu, remaja kelahiran 18 Juli 1995 tersebut mengikuti ektrakurikuler batik di sekolah. Dia bahkan ditunjuk menjadi ketua ekstrakurikuler yang diikuti 40 siswa itu. Dia menjadi lebih matang, karena dibimbing langsung oleh Ketua Forum Perajin Batik Purbalingga, Yoga Prabowo.

Dia memaklumi, masih banyak remaja yang tidak suka memakai. “Mereka beranggapan baju batik itu kuno. Seharusnya tidak seperti itu. Mestinya mereka bangga,” kata warga Desa Bukateja, Kecamatan Bukateja itu.

Anak muda malu memakai batik karena sering dikira akan menghadiri undangan pernikahan. Hal ini berbeda jauh dengan anak muda di Solo yang seolah menjadikan batik sebagai busana tren. Di banyak tempat, mereka memakai dengan beragam motif dan warna.

Dia mengaku, saat kali pertama belajar membatik menemui kesulitan. “Saat nyanting, lilin tumpah mengenai kain. Saya juga pernah terkena lilin panas, tapi sekarang sudah biasa.”

Tags: , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42