Logo kotaperwira.com

Kinerja Regional Management Barlingmascakeb Dinilai Belum Optimal

Purbalingga – Forum staf ahli bupati se wilayah Barlingmascakeb (Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap dan Kebumen) mempertanyakan efektifitas kinerja Regional Management (RM) Barlingmascakeb. Hasil kinerja lembaga yang dibiayai dari lima kabupaten tersebut dinilai belum optimal dan belum mampu mengangkat potensi ekonomi lokal.

Regional Management Barlingmascakeb merupakan aliansi kerjasama antara lima daerah di wilayah Banyumasan plus Kebumen. Lembaga ini didirikan tahun 2003 dengan visi menjadikan produk lokal Barlingmascakeb sebagai unggulan dan primadona konsumen nasional.

Ketua Forum Staf Ahli Bupati se-Barlingmascakeb, Drs Pratikno Widiarso, M.Si mengungkapkan, program kerja Barlingmascakeb tahun 2011 – 2013 dinilai kurang sejalan dengan kebijakan kabupaten anggota Barlingmascakeb. Terkesan, kelima kabupaten itu justru saling bersaing dalam memasarkan produk dan potensi lokalnya, serta bersaing menggaet investor.

“Promosi potensi lokal daerah yang dilakukan RM Barlingmascakeb hendaknya lebih riil. Potensi masing-masing daerah harus diunggulkan salah satu, bukan malah saling bersaing,” kata Pratikno Widiarso, Rabu (15/6). Praktikno bersama jajaran staf ahli dan para kepala Bappeda se-wilayah Barlingmascakeb sebelumnya telah mengadakan pertemuan dengan Regional Manager Barlingmascakeb Ir Asto Waluyo, MM, MBA.

Pratikno mencontohkan, misalnya potensi Kabupaten Banyumas yang ingin ditonjolkan untuk dipasarkan gethuk atau batik. Promosi kedua produk ini perlu dilakukan secara gencar. Sementara kabupaten lain memberikan dukungan berupa suplai bahan baku atau produk, bukan malah menyaingi. “Produk gula kelapa dan batik, misalnya, saat ini justru terkesan saling bersaing. Barlingmascakeb seyogyanya memotori promosi produk yang benar-benar unggul di suatu daerah,” kata Pratikno yang juga staf ahli Bupati Purbalingga bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dari hasil kajian, Pratikno menyarankan, potensi lokal yang perlu ditonjolkan Kabupaten Cilacap seperti Sebutret (serat sabut kelapa berkaret) dan udang lunak. Kemudian Purbalingga dengan sapu glagah arjuna dan gula kelapa, Banjarnegara dengan keramiknya.

“Barlingmascajeb agar lebih fokus mempromosikan produk ini. Mekanismenya selain melakukan promosi melalui berbagai media dan moment, juga membuka semacam outlet di suatu tempat. Jika ada outlet gula kelapa di Purbalingga, maka daerah lainnya tidak perlu membuka outlet, tetapi cukup memberikan pasokan gula tersebut,” kata Pratikno.

Praktik juga mencontohkan kebijakan yang belum sinkron antara satu Kabupaten dengan program kerja Barlingmascakeb. Misal, jika Kabupaten Purbalingga akan mendirikan pabrik gula, maka mestinya Barlingmascakeb memfasilitasi dan membicarakan dengan daerah lain untuk memasok bahan baku tebunya. “Jika kebijakan suatu daerah didukung oleh daerah lain, tentunya akan sinergis dan dapat meningkatkan roda ekonomi bersama,” kata Pratikno.

Ditambahkan Pratikno, efektifitas kinerja RM Barlingmascakeb perlu dilakukan pengkajian kembali. “Keberadaan RM Barlingmascakeb tentunya akan memperingan biaya promosi potensi suatu daerah. Logikanya, jika promosi bersama kan lebih murah, disbanding harus promosi sendiri-sendiri,” kata Pratikno sembari menambahkan, promosi melalui website Barlingmascakeb saja, masih kurang menarik dan sudah lama tidak ter-update dengan informasi baru.

Regional Manager Barlingmascakeb Ir Asto Waluyo, MM, MBA ketika bertemu dengan staf ahli dan para kepala Bappeda se-Barlingmascakeb mengemukakan, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2011 – 2013 RM Barlingmascakeb meliputi pemberdayaan potensi ekonomi lokal dan produk unggulan, memberdayakan potensi pariwisata local menjadi industri pariwisata dalam menunjang visit Jateng 2013. “Misi lainnya yang akan kami embank yakni memfasilitasi pengembangan infrastruktur wilayah dalam menunjang pembangunan sektor ekonomi dan pariwisata, serta memfasilitasi terwujudnya iklim investasi,” kata Asto Waluyo.

Program kerja yang akan dilakukan, jelas Asto, antara lain peningkatan pemasaran gula kelapa, batik Banyumasan Sebutret, pengembangan peran paguyuban pariwisata, fasilitasi kerjasama pengembangan infrastruktur, fasilitasi Minapolitan, pengaktifan bandara Tunggul Wulung, dan membangun jaringan komunikasi kerjasama dengan lembaga Kementerian, kedutaan Besar dan asosiasi bisnis.

Tags: , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42