Logo kotaperwira.com

Jelang Operasi Sanaya-Isnaya, Tumpeng Kembar dan Nazar Sembelih Kambing

Semarang – Setelah persiapan selama berminggu-minggu, rencana pemisahan bayi kembar siam asal Purbalingga, Sanaya dan Isnaya, memasuki tahap paling menentukan, Sabtu (13/8) hari ini. Selain persiapan medis, tim dokter dan keluarga sang bayi tak lupa memperbanyak doa demi kelancaran operasi.

Tumpeng yang diletakkan di salah satu Ruang Anak lantai 3 RSUP Dr Kariadi, Semarang, itu tampak lain. Tumpeng dari susunan nasi kuning tersebut membentuk dua gunungan, beda dari biasanya yang hanya satu gunungan. Kedua tumpeng melekat di bagian dasar.

Ya, tumpeng itu merupakan simbolisasi bayi kembar siam Sanaya-Isnaya yang akan menjalani operasi pemisahan, pagi ini. Direktur Pelayanan dan Medik RSUP Dr Kariadi Semarang dr Bambang Sudarmanto SpA(K) mengungkapkan, pihaknya memesan khusus tumpeng tersebut untuk acara doa bersama jelang operasi yang diadakan Jumat (12/8) sore. Tumpeng itu lantas diiris oleh Bambang menjadi dua bagian, persis seperti yang akan dilakukan pada operasi nanti.

“Semoga operasi besok (hari ini-Red) berlangsung lancar, dan Sanaya serta Isnaya menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tua, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Bambang.

Acara yang dimulai sekitar pukul 17.00 tersebut diikuti sejumlah anggota tim medis. Usai doa, para hadirin mengikuti shalat magrib dan buka bersama. Hadir pula Prof Sumantri yang selalu terlibat dalam penanganan bayi kembar siam di RSUP dr Kariadi. Saat diminta memberi sambutan, dia menegaskan bahwa operasi itu sekaligus merupakan kesempatan bagi tim medis untuk menimba pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu.

Sembelih Kambing

Kedua orang tua Sanaya dan Isnaya, Tatang dan Haryanti, juga menghadiri acara tersebut. Mereka ditemani para kerabat yang ikut menjaga bayi kembar siam selama masa perawatan. Tatang mengucapkan terima kasih pada pihak rumah sakit, dokter, dan seluruh pihak yang telah membantu keluarganya.

Ditemui usai acara, Tatang mengungkapkan bahwa dia ingin menyembelih kambing jika operasi berjalan lancar dan kedua anaknya bisa dipisah.

“Kalau semua sudah selesai, saya akan pulang ke Purbalingga dan menyembelih kambing sebagai rasa syukur. Tapi itu kalau punya uang,” ujar pria yang dulu bekerja sebagai pedagang keliling di tempat asalnya, tapi kemudian dipekerjakan RSUP dr Kariadi sebagai petugas kebersihan (cleaning service) selama berada di Semarang.

Tatang menuturkan, selama di Semarang ia selalu menjalankan puasa Senin-Kamis. Selama Ramadan, dia juga terus beribadah. Sementara, Haryanti lebih banyak diam. Ketika diminta untuk berbicara pada doa bersama, tak satu pun kata yang terucap. Dia hanya menundukkan kepala, meski pengeras suara sudah dipegangnya. Kedua matanya tampak berkaca-kaca.

Tags: ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42