Logo kotaperwira.com

Industri Rambut Palsu Purbalingga Diimbau Buka Pasar Ekspor Afrika

Purbalingga – Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Agus Winarno mengimbau industri wig atau rambut palsu setempat membuka pasar ekspor di Afrika.

“Beberapa waktu lalu, saat pasar Amerika dan Eropa ada kendala, Purbalingga secara khusus diundang Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian untuk mengikuti pertemuan bisnis untuk penetrasi pasar ke Afrika,” kata dia di Purbalingga, Rabu.

Ia mengatakan, produk rambut dan bulu mata palsu sangat diminati oleh konsumen di Afrika.

“Bahkan berdasarkan informasi dari Kemenko Perekonomian, ada orang Afrika yang menanyakan daerah produsen rambut dan bulu mata palsu. Kementerian pun memberitahukan bahwa rambut dan bulu mata palsu tersebut diproduksi di Purbalingga,” katanya.

Akan tetapi, kata dia, orang Afrika tersebut hingga sekarang belum datang ke Purbalingga setelah tahu tidak ada bandara komersial di kabupaten ini.

Menurut dia, para pebisnis sering kali menilai perjalanan dari Jakarta menuju Purbalingga selama lima jam menggunakan kereta api merupakan pemborosan waktu.

Oleh karena itu, lanjut dia, pihaknya berharap Pangkalan Udara (Lanud) Wirasaba yang dikelola oleh TNI Angkatan Udara dapat segera menjadi bandara komersial sehingga mempermudah akses bisnis.

“Pihak Angkatan Udara sudah mengizinkan Lanud Wirasaba dijadikan bandara komersial, kami tinggal minta fasilitasi dari Kementerian Perhubungan agar ada alokasi dana untuk pembangunannya karena dari APBD sendiri barangkali ada yang lebih prioritas,” katanya.

Mengenai pasar ekspor di Afrika, dia mengatakan, pihaknya terus mendorong industri rambut palsu Purbalingga yang berpotensi ekspor bisa memanfaatkan peluang tersebut meskipun dengan biaya sendiri.

“Kami belum bicara kuantitasnya, tapi kalau dilihat dari minatnya, peluangnya besar,” kata dia.

Akan tetapi, kata dia, para ekportir rambut palsu belum siap karena pemberitahuannya terlalu mendadak.

“Kami diberitahu kementerian satu minggu sebelum kegiatan, sedangkan untuk menyiapkan dokumen juga butuh waktu. Kementerian waktu itu menawari banyak pihak tetapi tidak mengkoordinasikan karena pihak-pihak yang dihubungi itu sudah biasa ke luar negeri sehingga tidak difasilitasi biro perjalanan,” katanya.

Dengan demikian, kata dia, pihak-pihak yang biasa ke luar negeri tersebut dapat dengan mudah bertemu meskipun hanya diberitahu tempat pertemuannya.

Sementara bagi pengusaha di daerah yang belum biasa ke luar negeri, lanjutnya, akan kesulitan untuk melakukan pertemuan di luar negeri tersebut.

“Kalau daerah inginnya, kami berangkat ya difasilitasi, dokumen dibuatkan. Kalau biaya sendiri, dokumen mengurus sendiri, teman-teman di daerah merasa berat,” katanya.

Kendati demikian, dia mengatakan, perusahaan rambut dan bulu mata palsu di Purbalingga tetap siap jika pasar ekspor ke Afrika terbuka luas.

Menurut dia, saat ini di Purbalingga terdapat 31 perusahaan rambut dan bulu mata palsu, 18 di antaranya merupakan penanaman modal asing (PMA).

Selain itu, kata dia, di Purbalingga juga terdapat sekitar 250 plasma industri rambut dan bulu mata palsu.

Dengan demikian, lanjutnya, perusahaan maupun plasma rambut dan bulu mata palsu tersebut akan meningkatkan kapasitas produksinya jika ada permintaan dari Afrika.

“Saat ini memang agak sulit untuk mencari tenaga kerja di Purbalingga, sehingga perusahaan rambut dan bulu mata palsu tersebut mengembangkan plasma-plasma hingga pelosok desa. Bahkan, ada juga yang membuka cabang di Banjar Patoman, Cilacap, dan Banjarnegara,” katanya.

Tags: , , , , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42