Logo kotaperwira.com

Heri Susila, Melukis Mantan-Mantan Bupati Purbalingga Sesuai Naluri

Purbalingga – Penampilannya yang sedikit lusuh, potongan rambut keritingnya agak panjang, dengan sikap tenang dan senyum ramahnya, dialah seorang perupa asal dusun Beneran Purwobinangun pakem sleman Yogyakarta, Heri Susila mengambil seni lukis sebagai media untuk merespon persoalan yang menggejala belakangan ini.

Karyanya yang sempat menjadi pertanyaan khalayak ramai adalah saat Dia melukis “Gunung Merapi meretakan Tanahnya ke selatan disambut oleh Gunungan wayang“, Karya ini Dia buat dua bulan sebelum Gempa Bantul tanggal 27 Mei 2006, kembali Karyanya yang berukuran 5.4 M x 1.85 M, dipesan langsung Kepala Disbudpar Kabupaten Sleman untuk mengisi ruangan di Museum Merapi Kali Urang Hargobinangun Pakem, bergambar “Merapi Melelehkan Lava Pijar Berubah Menjadi Ratusan Manusia Menuju Arah Selatan, ditengah Atas tergambar Bundaran Situ Inggil Keraton Yogyakarta dan Ombak Pantai Selatan“.

Karya ini dibuat akhir tahun 2008, pengerjaan yang memakan waktu hanya tujuh hari saja itu, mendapat restu dari Pengageng Keraton Yogyakarta GBPH. Joyokusumo, meski terjadi kendala diluar nalar, saat goresan pertama dia tancapkan pada kanvasnya, serentak Alarm di sekitar Gunung Merapi berbunyi nyaring di malam itu, kemudian keesokan harinya dia memohon diri kembali untuk bertemu Pengageng Keraton Gusti Joyo (panggilan akrabnya).

“Saya merambah dunia seni rupa pada 2005, karya yang saya buat adalah menampung keresahan di diri saya dan bentuk ungkapan atau kritik atas apa yang saya lihat dan rasakan, saya tidak mengacu pada teknik tertentu dalam menciptakan karya, yang lebih saya tekankan adalah esensi dan seni lukis itu sendiri” katanya.

Melukis Mantan-Mantan Bupati Purbalingga

“Sejak 2005 itu saya mengenal sosok Pak Lulu, ketika itu belum menjadi warga Sleman, banyak saya dapatkan darinya sebuah inspirasi kehidupan, hingga di awal tahun 2010 pak Lulu datang ke saya membawa amanah dari Bupati Purbalingga (Triyono Budi Sasongko-red), amanah ini cukup berat dan sangat berat, melukis para Bupati Purbalingga terdahulu dari Bupati ke satu sampai ke lima, tanpa ada referensi photo selembar pun, saya minta waktu untuk mempertimbangkannya dan saatnya tiba untuk saya menyatakan kesiapannya, dan seketika itu pula saya minta ke Pak Lulu untuk diajak ke Banyumas.

Saat Trah Dipokusumo lagi berkumpul, karena yang saya butuhkan adalah melihat anatomi puteri/wanita Trah Dipokusumo yang memiliki prosentase mendekati kesamaan hampir 90%, niat itu tercapai dan selanjutnya saya diizinkan untuk bertemu kasepuhan Trah, Bapak Subagyo di Candi Wulan bersama pak Lulu dan pak Triyono, intinya memohon restu dan izin. Cukup lama saya berdikusi dengan Eyang Subagyo hingga tak terasa pukul 02.00 pagi, keesokan paginya Eyang Subagyo menyerahkan bunga melati sebagai media saya berziarah ke Makam Arsantaka dan Giri Cendana” kenangnya.

Sepulangmya Heri Susila dari Purbalingga, membuat dirinya tidak mendapatkan inspirasi sedikitpun, selang dua hari kemudian mulai tergambar dipikirannya untuk menyusun kanvas dan mengaduk-aduk cat akrilik buatannya.

“Malam itu pukul 23.00, pak Lulu sms Saya dengan kalimat “Mlm Mas, sudah menggores belum..?”, saya hanya tersenyum karena waktu itu goresan 1 cm pun belum ada di kanvas saya, tepat pukul 02.00 hati dan tangan saya mulai tergerak untuk mewujudkan dari pikiran saya, wajah Dipoyudo III mulai terlihat, akan tetapi yang terjadi pada goresan pertama saya adalah Dipokusumo II, saat itu saya melukis dua wajah di dua kanvas yaitu Dipokusumo II dan Dipoyudo III, hingga pukul 10.00 pagi, meskipun hanya delapan jam kerja, rasanya seperti berhari-hari mengerjakannya” katanya.

“Memang ada satu gambar yang menggunakan media ayam jago putih mulus, dan sekitar tidak sampai 21 hari, gambar yang berukuran 42 cm x 61 cm yaitu Dipoyudo III (Bupati ke 1), Dipokusumo I (Bupati ke 2), Brotosudiro (Bupati ke 3), Dipokusumo II (Bupati ke 4) dan Dipokusumo III (Bupati ke 5) selesai dan diterima langsung oleh Bupati Purbalingga, dengan rasa puas dan bangga, sempat terlintas ucapan Pak Bupati (Triyono Budi Sasongko-Red), saat menerima lukisan-lukisan tersebut, “Terwujud sudah niat saya, mikul dhuwur, mendem jero”, dan sedikit cerita lucu, selama saya melukis belum pernah sedikitpun merangkai pigura, apalagi memasangnya, saat itu Pak Triyono minta langsung untuk saya memasang di pigura hingga pemasangan di Barat Pendopo malam itu juga, ini pengalaman unik hidup saya” kenang Heri Susila, pria kelahiran 13 Mei 1964.

Mengenai apa jenis lukisan yang dibuatnya, Heri mengungkapkan, terserah penilaian masyarakat. Dia tidak mengacu pada jenis lukisan tertentu atau dengan kata lain mengalir sesuai nalurinya, karya-karya yang dibuat Heri memiliki keragaman, meski ada ciri khusus yang tidak pernah dilepaskan, yakni unsur wayang, Karena ada hal terpenting lain yang menjadi tujuannya, yakni wayang sebagai bentuk kemampuan refleksi terhadap diri, Pasalnya, pada umumnya, manusia sulit untuk melihat dirinya sendiri.

Tags: , , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42