Logo kotaperwira.com

Hak Seniman di Purbalingga Masih "Dikebiri"?

PURBALINGGA – Siapa yang tak kenal Dedy Pitak seorang seniman yang pernah melantunkan lagu-lagu daerah bertema pembangunan Purbalingga (Album Purbalingga Mebangun.red) yang liriknya sangat kental dengan Seni Budaya Banyumasan dan hasil karyanya sangat digemari oleh masyarakat Purbalingga khusunya, Exs Krasidenan Banyumas pada umumnya. Mungkin para penggemar Dedy Pitak bertanya-tanya ke mana sekarang sang idola yang sempat memberi warna seni dan budaya di Kabupaten Purbalingga.

Bak ditelan bumi, sang seniman tak pernah muncul lagi di permukaan belantika dunia hiburan di daerah Exs karesidenan Banyumas. Mungkin para penggemar Dedy Pitak mengira sang artis sudah mendulang sukses hingga sulit ditemui, bahkan mungkin sebagian besar penggemar Dedy Pitak mengira sang seniman sudah menikmati kekayaan yang berlimpah dari hasil karyanya.

Namun pada kenyataannya, Dedy Pitak yang seakan-akan dianggap sebagai selebritis lokal yang sudah meraih sukses hingga kaya raya, padahal dirinya tidak menikmati secara finansial dari hasil karya yang sempat melahirkan dua album yang mendulang sukses itu, Bahkan dia hanya menikmati uang kurang lebih sebesar lima belas juta rupiah saja, itupun harus di potong biaya produksi pembuatan video klip dan operasional lainya, bahkan DP tidak menerima royalti sepeserpun dari karyanya itu.

Menghindari Rasa Minder dan Frustasi

Dedy Pitak (DP. red) yang mempunyai nama asli Dedy Erianto memilih menyendiri di daerah desa terpencil di pinggiran kota Purbalingga yang jauh dari keramaian untuk menghindari anggapan tentang dirinya yang sudah sukses. Bahkan DP melakukan ini agar tidak berhenti dalam berkarya, menjaga seni budaya banyumasan dan menjauhkan diri dari rasa frustrasi dan minder yang selalu menghantuinya karena opini yang terbentuk di masyarakat tentang dirinya yang dianggap sebagai selebritis lokal yang sudah sukses.

“Saya jadi merasa minder dan frustasi Mas, kalau saya disapa oleh para penggemar saat saya bertemu dengan mereka, apa lagi saat mereka bertanya kok saya gak pake mobil dan bahkan ada yang beranggapan kalau saya sudah diangkat jadi PNS di Pemkab Purbalingga” ujar DP.

Yang sangat menyedihkan lagi saat wawancara dengan MEDINAS, ternyata DP mendiami rumah mertua dan bukan milik pribadi alias numpang, untuk menutup kebutuhan hidup anak dan istrinya dia hanya mengandalkan panggilan pentas jasa organ tunggal yang tak pasti ada, dan untuk mengisi kekosongan waktunya dia sekali-sekali menerima tawaran servis komputer di wilayah desa tersebut.

Seniman Multitalenta

“Saya dengan otodidak mempelajari apa yang sudah saya lakukan ini” ungkap DP, bahkan dirinya sangatlah bersyukur atas apa yang sudah diberikan oleh Yang Maha Kuasa, yang awalnya DP tidak mengira dirinya bisa seperti saat sekarang, DP berkarya dan berusaha menjaga seni budaya Banyumasan yang harapannya diterima dan menghibur masyarakat eks Karesidenan Banyumas pada khususnya serta masyarakat Indonesia pada umumnya, dengan tidak berhenti berkarya dengan menciptakan lagu-lagu daerah yang sudah berjumlah ratusan, bahkan DP mengaku sudah ada yang dirillis menjadi beberapa album lengkap dengan video klipnya

Yang harus kita akui dari bakat DP adalah dia dapat menyajikan karyanya dengan kemasan yang apik dan dilakukan hampir secara keseluruhan oleh dirinya sendiri dari mulai penciptaan lirik lagu-lagu, aransemen, menjadi penyanyi hingga pembuatan video klip, dengan dana yang serba terbatas dan hanya mendapatkan dukungan dari komunitas seniman kecil yang sudah dihimpun dan dibina oleh DP sendiri berserta rekan-rekanya.

DP sekarang sudah memayungi karyanya dengan payung hukum yang jelas, agar untuk menghindari pengalaman menyedihkan yang pernah menimpanya saat difasilitasi oleh Pemkab Purbalingga diera Bupati Triono, saat merilis album pertama dan kedua yang tidak jelas MOUnya itu, DP kini lebih selektif untuk menyajikan karyanya hingga tidak ingin tersandung dipermasalahan yang sama, walaupun kini dia harus menelan “pil pahit” atas apa yang sudah dilakukan oleh oknum Pejabat Pemkab Purbalingga yang konon katanya mendapatkan gelontoran dana yang cukup besar untuk pembuatan album Purbalingga Membangun I dan II dari sang Bupati terdahulu dan beberapa sponsor, yang mana hasilnya tidak bisa dinikmati secara utuh oleh DP.

Cita-cita mulya Dedy Pitak yang belum terlaksana adalah ingin mempunyai tempat dan sarana yang memadai untuk para pelaku seni dan budaya yang ada di Purbalingga dan sekitarnya, agar bisa menjaga dan melestarikan Kesenian dan Kebudayaan Banyumasan pada umumnya, bahkan DP ingin membina teman-teman komunitas penyanyi jalanan agar menjadi seniman yang mandiri dan profesional.

Dikesempatan yang berbeda Bowo Leksono salah seorang seniman dan aktifis perfilman di Kabupaten Purbalingga yang menyutradarai film kontrofersial yang berjudul Bupati Ingkar Janji, yang membuat geram jajaran Pemkab Purbalingga, dengan menyajikan beberapa fakta yang sangat kritis dan membangun dalam filmnya untuk bupati Purbalingga Heru Sudjatmoko. Bowo sempat mengomentari atas kejadian yang menimpa Dedy Pitak “Dedy Pitak itu tertipu oleh bupati terdahulu meskipun secara tidak langsung berhubungan dengan bupati, dalam artian dilevel tertentu dia dimanfaatkan dan ditipu oleh bawahannya bupati Triono”. Bowo juga menyarankan pada Dedy Pitak agar menyajikan Karya-karya seni yang mengkritik kinerja Pemkab. “Kalau Dedy Pitak membuat lagu kritik untuk Pemda saya siap untuk membuatkan video klipnya” ujarnya.

Saat ditanya mengenai pencekalan pemutaran film yang dibuatnya dia (Bowo.red) menjawabnya dengan enteng “Di sini terlihat ketidaksiapan Pemda menghadapi kemajuan teknologi yang bisa dimanfaatkan untuk prasarana menyampaikan kritik dan saran, yang notabenenya dikuasai oleh kaum muda” ungkap Bowo Leksono, saat ditemui di Markas Cinema Lover Community (CLC.red)

Bupati Purbalingga Mengaku

Pemerintah Kabupaten Purbalingga mengakui kalau kinerjanya masih kurang optimal dalam menyajikan pelayanaan untuk masyarakat, melalui beberapa pernyataan yang diungkapkan oleh Bupati Purbalingga saat melakukan jogging di daerah Wirasana seorang diri.

“Memang saya tidak sepandai Bupati terdahulu yang piawai dalam mengatur bawahannya sesuai dengan kemampuan dan ahlinya masing-masih namun saya selalu berupaya untuk memperbaiki kinerja mereka agar mendapatkan hasil yang optimal” ungkap Heru.

Bahkan Bupati juga mengakui bahwasannya dia (Bupati.red) kurang mengakomodir masukan dan saran dari rekan-rekan LSM, Ormas, Pers, Seniman, Budayawan dan Komunitas-komunitas lainnya yang ada di Purbalingga.

Saat ditanya mengenai perihal Film Bupati Ingkar Janji yang diproduksi oleh CLC, Bupati sangat menyayangkan hal ini terjadi mengingat beberapa adegan yang menimbulkan opini negatif di masyarakat seakan akan saya malakukan Money Politik saat kampanye “Seharusnya saat tayangan ibu Heru, istri saya membagikan uang itu diberi keterangan untuk para saksi-saksi di TPS nanti” katanya.

Namun dia (Bupati.red) sangat merespon pesan dan kritik yang disampaikan melalui Film tersebut untuk dijadikan bahan evaluasi Pemkab beserta jajaranya, namun sangatlah disayangkan oleh dirinya (Heru.red) mengenai sikap yang apatisme terhadap Bupati hingga disampaikan di jejaring sosial yang memuat foto profil yang menuliskan turunkan bupati, “Saya ingat sejarah pada saat Khairil Anwar membuat karya-karya seni yang mengkritik penjajah dan menggugah nasionalisme rakyat Indonesia untuk melawan penjajah, saya inikan bukan penjajah yang harus dibumihanguskan, saya juga masyarakat Indonesia yang kebetulan menjadi Bupati saja, paling hanya lima tahun saya jadi Bupati seterusnya ya jadi rakyat biasa lagi” tambahnya.

Bupati Purbalingga akan mengakomodir saran-saran dan masukan dari LSM, Ormas, pers, seniman, budayawan dan komunitas-komunitas lainnya, bahkan Heru mengungkapkan apabila dari rekan-rekan mempunyai ide-ide positif seperti untuk menggelar acara atau festival menyongsong Hari Jadi Kota Purbalingga, “Silahkan ajukan konsep-konsep untuk menyongso memperingati Hari Jadi Kota Purbalingga terutama mengangkat seni dan kebudayaan lokal ” ungkap Heru.

Tags: , , , , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42