Logo kotaperwira.com

Film Pigura Karya Siswa SMP Purbalingga

Solo – Usia pembuat film semakin awal. Hal ini salah satunya terbukti dengan adanya dua kategori kompetisi yang ditetapkan oleh Festival Film Solo (FFS), yakni kategori Ladrang untuk umum nasional dan kategori Gayaman untuk kelompok siswa se-Jawa Tengah.b Bahkan, film karya siswa SMP berjudul “Pigura” dari Purbalingga mampu masuk nominasi.

Seperti disampaikan salah satu juri kategori Gayaman, Veronika Kusumaryati, ketertarikan terhadap produksi film pendek sudah mulai merambah segala kalangan dan usia. “Dari segi kesegaran ide, kualitas artistik, penyampaian pesan, dan permainan olah emosinya tidak kalah bila dibandingkan dengan kompetitornya yang notabene produksi siswa SMA,” tandasnya, Kamis (5/5).

Sementara itu, programmer FFS 2011 yang termasuk dalam tim kurator, Joko Narimo mengungkapkan, terpilihnya film ini menjadi nominasi atas dasar kesederhanaan dan lokalitas yang sungguh-sungguh ditunjukkan. “Sebenarnya hanya mengangkat kisah hidup sehari-hari namun dari penceritaannya yang menggunakan medium pigura mengesankan ada tema dan pesan kuat yang ingin disampaikan,” paparnya.

Dalam film tersebut, sutradara ingin menggambarkan betapa setiap anak merindukan keutuhan sebuah keluarga yang bahagia dengan kehadiran seluruh anggota keluarga di dalamnya.

Dikisahkan dalam film yang disutradari Darti dan Yasin ini, sebuah keluarga yang merindukan kehadiran seorang ayah yang telah lama pergi dan tak kembali. Suatu saat sang anak perempuan, Gati, berhasil mendapatkan nilai 100 untuk pelajaran matematika dan seisi kelas mengusulkan agar kertas ulangannya dipigura untuk dipajang di ruang kelas sekaligus sebagai hadiah untuk ayahnya apabila suatu saat pulang.

Tak disangka, ketika dengan perasaan bahagia Gati membuat pigura, adiknya yang bernama Gagas secara tidak sengaja menggunting kertas ulangan kakaknya dan ditempel sebagai ekor layang-layangnya. Saking sayangnya dengan si adik, Gati rela mengejarkan layang-layang adiknya yang putus. Bahkan sampai memanjat pohon. Setelah mendapatkan layangan tersebut, Gati baru tahu kalau ekor layang-layang itu adalah kertas ulangannya.

Gati tentu sangat sedih dan ia mencari Gagas dan bersiap memarahinya. Namun ia menemukan Gagas yang sedang menggambar seluruh anggota keluarganya pada sebuah kertas karena sudah begitu rindu dengan ayahnya. Urunglah niat Gati untuk memarahi sang adik, Gati hanya bisa menangis. Pigura yang sudah dibuatnya dengan susah payah akhirnya dipakai untuk menempatkan gambar Gagas.

Timlo.Net

Tags: , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42