Logo kotaperwira.com

Dilema "Pamong Praja" di Pabrik Rambut dan Bulu Mata Palsu

Bangkit Wismo – Kabupaten Purbalingga, sepuluh tahun sebelumnya lebih dikenal sebagai “Kota Pensiunan” yang jauh dari hingar bingar rasa gumregah. Namun, lewat sentuhan mantan Bupati Triyono Budi Sasongko, Kota Perwira mengejawantah menjadi “Kabupaten Proinvestasi”.

Melihat pendirian pabrik, sudah seperti melihat cendawan di musim hujan; merebak di mana-mana. Investor datang berbondong-bondong ke Purbalingga. Mula-mula hanya di perkotaan, namun seiring pergantian tahun, pabrik-pabrik dibangun di sejumlah pelosok kecamatan.

Para penanam modal tersebut, kebanyakan dari luar negeri; Korea. Bermodal dengan kemudahan dalam menanamkan modal; baik dari sisi perijinan maupun “pengamanan” investasi, mereka datang berbondong-bondong membawa alat-alat membuat rambut dan bulu mata palsu.

Buruh Pabrik Rambut Palsu

Para Buruh Pabrik Sedang Beristirahat Beralaskan Kardus Bekas

Tak ayal, penyerapan tenaga kerja besar-besaran tak lagi bisa dibendung. Pengalihan lahan pertanian menjadi lahan menanam beton juga tak bisa terelakan. Pembangunan secara fisik pun secara perlahan mengubah wajah Kota Perwira. Perubahan terjadi. Purbalingga jadi produsen bulu mata terbesar kedua di dunia.

Masa kepemimpinan Triyono Budi Sasongko, selama dua periode, sudah berakhir, setahun terakhir Purbalingga dipimpin Heru Sudjatmoko. Sebagai pengganti tokoh monumental itu, pekerjaan Heru menjadi pemimpin tidak mudah. Bahkan, dia tak bisa mengelak, jika dibanding-bandingkan dengan pasangannya selama jadi wakil bupati.

Tidak hanya itu, hal yang pada masa sepuluh tahun Triyono dianggap sebagai solusi, di masa Heru justru bermertamorfosa menjadi masalah yang pelik. Solusi-solusi tersebut menjadi benang kusut yang tak mungkin bisa diurai dalam satu periode.

Pamong Praja, Papa Momong Mama Kerja

Penyerapan tenaga perempuan di pabrik rambut dan bulu mata palsu tidak dibarengi dengan upah yang sesuai dengan UMK, selama bertahun-tahun. Ruang bekerja bagi kaum adam juga nihil. Alhasil, marak fenomena “Pamong Praja” alias papa momong mama kerja (bapak merawat anak, ibu bekerja).

Di tengah kegawatan perkembangan psikologis anak, yang ditinggal ibu mereka bekerja, di Purbalingga justru semakin menjamur kejadian istri mengajukan cerai atas suami mereka. Alasannya sederhana. Si istri merasa mampu bekerja dan dapat duit sementara suami hanya mampu jaga rumah.

Kerumitan kian berlanjut, anak-anak tidak lagi mampu mengenyam bangku sekolah. Kemiskinan membuat mereka menguburkan cita-cita sekolah “setinggi langit”. Mereka justru tergiur dengan keberadaan tempat pembuatan rambut dan bulu mata palsu yang dibuat di rumah-rumah, di hampir di setiap desa ada.

Padahal, tempat pembuatan rambut dan bulu mata palsu yang lazim disebut plasma itu sama sekali tak memiliki dasar hukum yang pasti. Dengan kondisi itu, tentu saja, kesehatan mata mereka tak ada yang menjamin. Upah kerja mereka juga bernasib sama.

 Tags: , , , , , , , , ,  
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-blog.php on line 25