Logo kotaperwira.com

Di Purbalingga Masih Ada Orang Gila Yang Dipasung

Target Bebas Pasung Orang Gila 2012 Bisa Gagal

PURBALINGGA – Dinas Kesehatan Purbalingga mencatat terdapat 14 orang gila yang dipasung keluarganya. Tren memasung kegilaan yang merusak tersebut diyakini sejumlah pihak bak fenomena gunung es.

Bila penilaian tersebut benar, hampir pasti target Gubernur Bibit Waluyo untuk membebaskan Jateng dari pemasungan pada 2012 bakal tersendat. Target Indonesia bebas pasung dipatok 2014.

Pemasungan tidak hanya berupa membatasi gerak dengan mengikat dengan kayu dan rantai, dengan kayu atau mengubur, melainkan juga mengurung dalam kamar.

Kepala Bidang Sosial pada Dinas Sosial, Tenagakerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Purbalingga, Bambang Kadarisman, menuturkan pemasungan dipilih karena dianggap sebagai cara paling efektif.

“Jadi seperti fenomena gunung es. Di atas segitu, ngisore amba,” tutur dia. Sejauh ini pihaknya belum mengantongi data selain data 14 orang tersebut. Begitu pula dengan Dinas Kesehatan.

Ditemui Suara Merdeka di ruang kerjanya, Sabtu (16/6), Bambang berujar saat orang gila mengamuk keluarga lantas memasung. “Keluarga takut akan merusak.”

Tipisnya Dompet

Pemasungan juga dinilai warga sebagai cara lain paling pas disaat proses pengobatan di rumah sakit atau secara alternatif menjadi langkah berat karena tipisnya dompet.

Di luar itu semua, faktor kesadaran masyarakat yang masih sedikit menjadi perlakuan tidak manusiawi tersebut tetap merajalela. Kendati sejumlah elemen sudah berupaya memberikan penjelasan.

“Ada juga yang bilang ngantos mati teng mriki (sampai mati ya di sini, rumah),” kata dia merujuk pada gagalnya penjemputan seorang gila di Desa Darma, Kecamatan Kertanegara, pertengahan pekan lalu.

Kasi Kesehatan Dasar Institusi Dinas Kesehatan, dr Retno Sri Haswati, menjelaskan secara psikis pemasungan tidak terasa dampaknya, namun secara fisik bisa sangat mengganggu.

“Kalau dikurung di kamar dan diberi makan secara rutin sih nggak masalah secara fisik, tapi kalau pasung kayu, otot-ototnya bisa mengecil. Kalau pengobatan berjalan tidak perlu dipasung lagi,” jelasnya, kemarin.

Dikemukakan, sejalan dengan target Jateng bebas pasung, Dinas Kesehatan sudah mengintruksikan kepada puskesmas untuk memperbaharui data orang-orang gila yang dipasung. Data di atas merupakan hasil pendataan dinas.

Jerat benang kusut penanganan orang gila yang masih dipasung tak hanya ada di level kesadaran dan biaya pengobatan, melainkan ternyata ada juga di tataran pemerintah, khususnya dalam hal koordinasi antarinstansi.

“Mestinya tidak hanya dari Dinas Kesehatan, tapi dinas lain juga. Sekarang baru Dinas Kesehatan yang masih bergerak sendiri,” tegasnya.

Salah satu buktinya yaitu belum terbentuknya Tim Pengarah Kesehatan Jiwa Masyarakat (TP-KJM) di tingkat kabupaten, sesuai peraturan gubernur. “Kami, sedang bergerak ke sana.”

Ketua Forum TKSK Purbalingga, Daryanto, belum lama ini mengemukakan seharusnya dinas tanggap dengan kondisi tersebut. Terutama yang berkaitan dengan masih banyak orang gila yang dipasung namun belum dilaporkan.

Dinas juga perlu berinisiatif jemput bola bila ditemukan orang gila yang belum dilaporkan secara langsung. “Tugas TKSK mendata dan mengadvokasi,” katanya.

Tags: , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42