Logo kotaperwira.com

Buntil Carangmanggang, Buntil Super Maknyus dari Purbalingga

Dipo Handoko – Sabtu (25/2)-Minggu (26/2) lalu saya ada tugas ke Purbalingga, Jawa Tengah, mewawancarai Pak Ruswanto, Juara 2 Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran (LKG) 2011, sekaligus Juara 3 Lomba Kreativitas Ilmiah Guru (LKIG) 2011. Ruswanto termasuk guru kreatif. Ternyata banyak karyanya berupa teknologi tepat guna, yang bisa untuk menunjang pembelajaran Biologi.

Buntil Bu Kasmini Kutasari Purbalingga

Buntil Kutasari (Buntil Carangmanggang) Racikan Bu Kasmini

Saya ingin menulis tentang makanan khas Purbalingga yang hingga sekarang rasanya lidah saya masih menyisakan kelezatannya. Makanan super inuk (saking enaknya) itu adalah buntil. Hehe, dibilang selera ndeso ya tidak mengapa. Sinyal perasa pada lidah saya mungkin memang terdiri dari sel-sel pengecap makanan ndeso, yang cocik (saking cocoknya) dengan makanan tradisional atawa selera nusantara.

Buntil Purbalingga baru saya ketahui saat berselancar di internet, sebelum bertolak ke Purbalingga. Saya pun ketinggalan info jika ternyata Purbalingga juga punya produk legendaris, yakni Davos, permen semriwing, yang sejak masa kecil sudah saya kenal.

Kembali ke soal buntil, di sejumlah daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, buntil juga dikenal dengan kekhasan masing-masing. Ada buntil daun talas, daun ketela, juga daun pepaya. Entah siapa yang paling dulu bikin buntil. Saya cari di Mbah Google belum ada yang menulis sejarah buntil, serta mencatat siapa yang pertama membuatnya, di mana dan kapan pula beredar di masyarakat.

Di Yogya, tempat dulu saya kuliah dan bekerja, juga biasa menyantap buntil. Gudeg Bu Tjitro yang berdiri sejak 1925 (kasihan ya, berdiri terus) punya menu gudeg yang disandingkan dengan buntil daun pepaya (tapi asli tidak pahit), plus sambel goreng krecek, ayam atawa telor, yang diguyur areh gudeg yang gurih dan nikmat.Tentu, bukan buntilnya Gudeg Bu Tjitro yang sering saya santap, hanya buntil kampung yang di warung makan biasa.

Di kampung halaman sendiri, Magelang, juga punya buntil top markotop yang sudah sohor sejak lama, yakni buntil di Pasar Tukangan. Buntil Magelangan ini setidaknya punya ciri khas, kulit luar berupa daun talas sedang isinya menggunakan potongan tongkol, meski ada juga yang tanpa ikan. Buntil mantab Purbalingga ini juga mirip. Bedanya, isinya adalah ikan teri. Kuah dari santannya cukup pedas.

Dari sekian banyak penjual buntil, hanya satu tempat yang direkomendasikan, yakni di Pasar Kutasari, Kecamatan Kutasari, sekitar 7 kilometer arah utara dari alun-alun Purbalingga. Kebetulan saya menginap di Hotel Utama, Jalan Jenderal Sudirman, yang tak jauh dari alun-alun. Yang jelas kebetulan lagi, saya memiliki teman sangat baik, yakni Pak Agus Triyanto. Pak Agus saya kenal sejak 2007, ketika saya mendapat tugas memprofilkan kegiatan di SMPN 1 Purbalingga. Waktu itu Pak Agus menjabat Kepala SMPN 1 Purbalingga. Ketika saya bertemu tempo hari itu, baru tahu jika Pak Agus ditugaskan sebagai guru di SMAN 1 Purbalingga, yang tak lain tempat Pak Ruswanto mengajar. Klop. Selain diantar ke sekolah tempat janjian dengan Pak Ruswanto, saya benar-benar dijamu Pak Agus dan istri.

Buntil Kutasari sebenarnya dibuat oleh Ny. Kasmini, warga Dukuh Carangmanggang, Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari. Sebagian orang pun menyebut buntil paling top itu sebagai buntil Carangmanggang. Bu Kasmini menjajakan buntil sejak 45 tahun lalu, yang memang memilih lokasi jualannya di Pasar Kutasari. Tak heran bila lama kelamaan nama buntil Kutasari pun sohor di masyarakat Purbalingga, dan pelancong yang doyan kuliner.

Bu Kasmini, 59 tahun, membikin buntil setelah menikah di usia muda belia: 14 tahun. Ia meneruskan dagangan buntil orangtuanya. Resep buntilnya pun ia dapat langsung dari ibunya. Bahan-bahannya memang tak beda dengan buntil lain.. sebagaimana buntil Magelangan. Namun saya akui buntil Kutasari memang sangat istimewa.

Kuliner Buntil Khas Purbalingga

Menyantap Buntil dan Iwak Kali Bersama Pak Agus Triyanto dan Istri

Berkat bantuan Pak Agus dan istri, Ahad pagi-pagi, sekitar pukul 6, saya diantar ke Pasar Kutasari. Luar biasanya, dasaran Bu Kasmini yang baru buka pukul 7 itu sudah diantri belasan orang di pagi itu. Semakin lama antrian sudah semakin banyak. Konon kabarnya saat rame bisa puluhan orang yang rela antri demi sang buntil. “Saya sendiri heran, kenapa saya mau-maunya antre sejam padahal tahu di depan masih banyak yang ngantri,” kata Pak Bangun, Kepala SMP Bukateja, Purbalingga, kolega Pak Agus saat berbincang santai pada pertemuan Sabtu malam.

Menurut cerita orang, jualan Bu Kasmini memang selalu diserbu pembeli. Jika Ahad, Bu Kasmini menyiapkan lima panci besar, yang setiap pancinya berisi 100 buah buntil. Berbeda dengan hari biasa, yang rata-rata hanya menjual buntil dalam dua panci besar. Buntil seharga Rp 3.000/buah itu pun kabarnya selalu ludes setiap hari, sekitar pukul 9.

Buat penggemar kuliner masakan Jawa, kalau melancong ke Purbalingga wajib mampir dan menyantap buntil Kutasari. Saya sudah tag “buntil Kutasari” di wikimapia. Oiya, ada satu yang terlupa, buntil Kutasari itu akhirnya kami santap ditemani iwak kali goreng di warung makannya Bu Tuti. Saya agak lupa lokasi persisnya. Seingat saya tidak terlalu jauh dari kota, dekat pula dengan SMAN 1 Purbalingga. Bukan iklan, jika saya mengatakan sungguh perpaduan yang super maknyus: buntil Kutasari plus iwak kali n sambel trasinya, dijamin tidak cukup jika hanya sepiring nasi.

*Diedit dari sumber aslinya agar lebih ringkas, dengan tidak mengubah garis besar artikel.

 Tags: , , , , , , ,  
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-blog.php on line 25