Logo kotaperwira.com

Bulan Ramadhan, Sumanto ‘Kanibal’ Cari Jodoh

Purbalingga – Masih ingat dengan Sumanto, warga Purbalingga yang sempat membuat heboh jagat tanah air karena kebiasaannya memakan daging manusia? Setelah sembuh dari kebiasaan anehnya itu, kini ia tengah berjuang mencari seorang pendamping hidup.

Tekad Sumanto untuk secepatnya memiliki seorang istri sangat terlihat dalam kebiasaannya sepekan terakhir. Di bulan Ramadan ini, selain melaksanakan ibadah puasa sebagaimana penghuni Wisma Rehabilitasi Sosial, Mental, dan Narkoba Purbalingga tempat ia dirawat lainnya, ia juga rajin berdoa.

Ia terus memohon kepada Tuhan agar segera dicarikan jodoh untuknya. “Nyong wis kepengin nduwe bojo koh (saya sudah kepingin punya istri, red),” tutur Sumanto saat ditemui di rumah sakit sekaligus pesantren milik Haji Supono Mustajab tersebut, di Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Purbalingga, Rabu (10/8).

Sumanto Mencari Cinta

Sumanto Ingin Punya Istri

Keinginan Sumanto untuk menikah kali ini memang bukanlah hal baru. Sekitar empat tahun lalu, ia juga pernah merengek kepada Haji Supono, orang yang merawatnya, agar dinikahkan dengan seorang perempuan.

Maklum, pria yang dikenal sebagai ‘manusia kanibal’ itu lama tidak ‘menyentuh’ perempuan setelah lima tahun dipenjara akibat perbuatannya. Namun, Haji Supono saat itu sengaja tidak memenuhi keinginannya.

Ia ingin mendidik Sumanto terlebih dahulu agar tahu bagaimana mencari nafkah, dan belajar mengetahui hak dan kewajiban seorang suami dan ayah. Haji Supono berdalih, setelah memiliki pendapatan sendiri, tentu lebih mudah bagi Sumanto untuk mendapatkan seorang istri.

Biaya Pernikahan Akan Ditanggung

Kini, lima tahun sudah Sumanto tinggal di rumah sakit jiwa milik Haji Supono tersebut. Selama tinggal di situ, perhatian pihak pengelola tak pernah berhenti dicurahkan. Sumanto kerap diajak Supono mengisi pengajian di berbagai daerah. Dari pengajian itulah, Sumanto bisa mempunyai uang untuk membeli keperluan hidupnya.

Selama puasa, Sumanto pun ikut menjalankan ibadah bersama penghuni lainnya. Ia juga rajin membaca kitab suci dan mengikuti salat tarawih. “Tapi kadang berangkat, kadang tidak,” kata Supono kepada tempointeraktif.com.

Sejak menjalani rehabilitasi di tempat itu, Sumanto memang diajari berbagai pengetahuan tentang agama. Karena itu tidak mengherankan, bila kini, Sumanto sudah bisa membaca Al Quran meski belum begitu lancar.

Namun, hari-hari ini, kata Supono, keinginan untuk menikah itu kembali muncul. Sumanto sering berkeluh kesah kepadanya karena hingga saat ini ia belum juga menemukan perempuan yang mau dijadikan istri.

“Kalau ada yang mau, biaya pernikahan mereka saya yang akan nanggung,” kata Supono.

Sumanto adalah potret masyarakat yang menjadi korban kemiskinan. Ia terbentur oleh banyak keinginan, namun tak berdaya dalam jebakan kemelaratan hingga akhirnya hidup dengan perilaku menyimpang.

Lewat pengadilan pada 27 Juni 2003 silam, warga Desa Plumutan, Kemangkon, Purbalingga itu divonis lima tahun penjara setelah terbukti memakan mayat Mbok Rinah (81), tetangganya, pada 11 Januari 2003 malam. Mayat itu ‘disantap’ Sumanto setelah 16 jam dikubur.

Oleh Sumanto, tulang dan sisa daging mayat Mbok Rinah dikubur di depan rumahnya. Dalam pemeriksaan kepolisian kemudian, ternyata bukan hanya Mbok Rinah yang dia mangsa. Sumanto juga melahap dua orang lainnya. Ia berdalih bisa mendapatkan kekuatan supranatural setelah melakukan perbuatan aneh itu.

Pada 24 Oktober 2006, Sumanto secara resmi bebas. Keluar dari Lembaga Pemasyarakatan Purwokerto, ia langsung dirawat Yayasan Wisma Rehabilitasi Sosial Mental dan Narkoba di Desa Bungkanel tersebut.

Pengobatan di wisma itu menggunakan metode gabungan antara pengobatan medis dan nonmedis. Untuk menyembuhkan pasien dengan cara medis, Supono bekerja sama dengan enam dokter dari Purbalingga dan Purwokerto. Untuk penyembuhan nonmedis, ia sendiri langsung turun tangan.

Di tempat ini, Sumanto menempati satu kamar tersendiri, berukuran 3 X 4. Ia tidak diisolasi, meski untuk orang seperti dia ada yang harus diisolasi.

Sumanto diajari banyak hal, mulai dari agama hingga keterampilan praktis. Kisah Sumanto bahkan pernah diangkat ke layar lebar untuk menggambarkan betapa banyak ketimpangan sosial terjadi di republik ini.

Kini Punya Pendapatan Sendiri

Lima tahun hidup bersama Haji Supono, kini kehidupan Sumanto telah berubah secara ekonomi. Rezekinya bertambah karena sering menjadi bintang tamu saat mendampingi sang guru diundang dalam acara keagamaan.

Meski hanya duduk di panggung mendampingi Haji Supono memberikan ceramah, Sumanto menjadi magnet tersendiri. Warga menjadi antusias mengikuti ceramah karena penasaran ingin melihat Sumanto. “Kalau ada Sumanto, pengajiannya selalu ramai,” ujar Supono.

Hasil dari ceramah itu, kata dia, untuk sekali pengajian, infak yang dikumpulkan bisa mencapai Rp 9 juta. Dari infaq tersebut, Sumanto mendapatkan bagian berupa honor.

Di sinilah muncul ketulusannya untuk membantu sesama. Sumanto tak ingin menggunakan honor itu seorang diri. Sebagian dari rezeki yang ia terima, disumbangkan untuk pengemis dan pengamen.

Kalau sudah berubah demikian, adakah yang berminat menjadi istrinya? Anda mungkin?

Tags: , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42