Logo kotaperwira.com

Banjir Ancam Konsep Parireja di Purbalingga

PURBALINGGA – Munculnya genangan air di sejumlah wilayah saat hujan deras, beberapa waktu lalu, menjadi preseden buruk bagi rencana Pemkab Purbalingga dalam mengembangkan konsep Parireja.

Pasalnya, hujan deras selalu hampir dipastikan membanjiri ruas-ruas jalan. Bahkan, tak jarang yang merendam pemukiman warga. Sekali pun sejumlah daerah itu hanya diguyur hujan sekitar tiga jam.

Konsep Parireja merupakan konsep pengembangan pusat kegiatan lokal. Dimana daerah itu akan diarahkan untuk menjadi perkotaan. Parireja adalah akronim dari Purbalingga, Bobotsari, Rembang, dan BuĀ­kateja.

Seperti diketahui, empat kecamatan itu kerap tergenangi. Intensitas dan luasan area yang tergenang kian luas. Yang lebih mengkhawatirkan, wilayah yang tergenang itu tak tercatat sebagai wilayah rawan banjir.

Tak Berbahaya

Pengamat lingkungan, Taufik Katamso, berujar kini wilayah banjir tersebut tak “terlalu” berbahaya. Namun, membiarkannya tanpa kebijakan pencegahan jelas bukan hal yang baik bagi semua pihak.

“Yang namanya membangun itu tidak hanya menebali dan melebarkan jalan, sementara saluran airnya mampet,” tutur Taufik Katamso kepada Suara Merdeka, kemarin.

Berdasarkan penjelasan Camat Purbalingga, Bobotsari dan Rembang, penyebab utama masalah itu terletak pada tak seimbangnya kapasitas saluran air dengan debet air. Selain itu, banyak juga saluran air yang rusak.

Menurut pengamat tata kota, Kris Hartoyo, masalah banjir erat kaitannya dengan penataan wilayah. Dalam hal ini, pemerintah tak mendata sesuai dengan data yang riil di lapangan.

Bahkan, terkadang ada sejumlah data yang sebatas copy and paste. Ia beranggapan, selama datanya tak valid, maka masalah banjir tak akan tertangani, malah bisa saja semakin meluas.

“Kalau desain dan data analisa yang digunakan untuk mengkaji saja salah, hasilnya sudah pasti salah. Kaji ulang itu datanya,” tuturnya yang berulang kali menyerukan pentingnya data akurat.

Dia memaparkan secara potensi ekonomi, ke empat wilayah tersebut sudah tepat untuk dikembangkan. Hanya saja dari segi infrastruktur di kecamatan tersebut, banyak yang perlu dibenahi.

Ia mencontohkan banyaknya saluran primer yang mati dan tak terdata di wilayah Kota Purbalingga. Sungai yang tertutup beton di daerah Rembang, kemudian gorong-gorong yang tidak diketahui kondisinya secara jelas.

“Sebenarnya melihat wilayah Bobotsari itu banjir kan agak tidak masuk akal,” ucap Kris sambil menyebutkan banjir di SMK Maarif NU Bobotsari yang terjadi beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, baik DPU maupun Bappeda sama-sama mengaku belum memiliki rencana khusus untuk menangani banjir yang kian banyak tempat dan merata itu. Pemkab baru mencoba berkonsentrasi penanganan di Kota Purbalingga.

Kasubbid Prasarana Wilayah Bappeda, Hadi Iswanto, berujar Pemkab baru membuat masterplan infrastruktur perkotaan. Di dalamnya juga mencakup penanganan sampah dan drainase.

“Sementara di kota dulu, karena kompleksitas masalahnya lebih tinggi. Kalau di wilayah lain sudah ada data awal, nanti lebih didetailkan lagi di masterplan tiap kecamatan,” ucapnya.

Tags: , , , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42