Logo kotaperwira.com

14 Warga Terlibat Jaringan NII di Purbalingga

Purbalingga – Aparat Kepolisian Resort (Polres) Purbalingga mengidentifikasi 14 warga terlibat dalam jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Mereka berada di tiga kecamatan, masing-masing Kutasari 2 orang, Karangreja 9 orang dan kecamatan Rembang sebanyak 3 orang. “Identitas mereka sudah ada di Polres, kami tidak bisa menyampaikan nama-namanya, dan mereka terus kami waspadai,” kata Kapolres Purbalingga AKBP Drs Roy Hardi Siahaan, Selasa (31/5).

Kapolres Roy Hardi mengungkapkan hal tersebut saat menjadi nara sumber pada pertemuan Badan Koordinasi Kehumasan (Bakohumas) yang diselenggarakan Bagian Humas Setda di ruang Operation Room Graha Adiguna kompleks Pendopo Dipokusumo. Pertemuan yang dibuka oleh Bupati Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si juga mendatangkan nara sumber lain Komandan Kodim 0702 Letkol Arm Jati Bambang Priyambodo, S.Ip.

Menurut Kapolres, modus perekrutan anggota NII dilakukan melalui berbagai cara seperi tawaran kerja dengan sasaran para buruh, menjadi responden untuk penelitian yang sasarannya mahasiswa, dan mengadakan pertemuan dengan calon angggota untuk menguatkan ideologi NII. “Sedang modus penyebarannya dengan cara melakukan baiat kepada para calon anggotanya,” kata Kapolres.

Selain ancaman gerakan NII, ancaman yang sangat diaspadai adalah munculnya terorisme. Aksi terorisme tidak saja hanya melakukan pengeboman, tetapi lebih dari itu yang mengancam keselamatan negara. Prediksi ancaman yang masih muncul yakni jaringan Al-Jama’ah Al-Islamiyah, kemudian munculnya pemimpin baru gerakan teroris meski pelaku teroris sudah meninggal dunia. “Wilayah Jawa Tengah, tetap menjadi sasaran basis rekuitmen pelaku terorisme. Polisi masih kesulitan memutus jaringan terorisme yang terus bermunculkan dan saling berkaitan,” tegas Kapolres.

Media Berpotensi Sebarkan Terorisme

Kapolres menilai, modus penyebaran dan jaringan kelompok terorisme dapat dilakukan melalui berbagai cara. Pemberitaan secara blow up di media cetak dan elektronik serta media internet juga berpotensi dipergunakan oleh jaringan, seperti yang mulai dilakukan kelompok teroris belakangan ini. “Penyebaran lainnya dilakukan melalui pengajian, peredaran CD, dan SMS handphone,” kata Kapolres.

Kapolres menyatakan, pihaknya telah melakukan upaya preventif atas ancaman terorisme dan gerakan NII melalui pendataan tempat kos dan rumah kontrakan. Kemudian melakukan kerjasama dengan pemerintahan desa hingga RT/RW dalam hal penertiban KTP bagi warga baru. “Polisi juga terus meningkatkan kewaspadaan terhadap obyek yang mungkin jadi sasaran teror seperti tempat ibadah, pusat pembelajaan, hotel, tempat wisata, kantor instansi pemerintah dan prasarana yang menyangkut kepentingan negara atau asing,” kata Kapolres.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Drs H Heru Sudjatmoko, M.Si mengingatkan agar warga masyarakat mewaspadai paham ekslusivisme, paham yang merasa yakin paling benar sendiri. Paham ini, lanjut Heru, dapat menjadi ekstrimisme dan bahkan terorisme yang pada akhirnya akan merugikan masyarakat dan negara. Paham ini bisa saja menyerang paham kenegaraan, paham membela negara yang ditengarai sudah semakin luntur. “Masyarakat harus terus dibangun semangat membela tanah air, semangat membela kepala negara jika dilecehkan atau diperlakukan semena-mena, serta semangat cinta tanah air,” kata Bupati Heru.

Bupati Heru juga berpesan kepada anggota Bakohumas, untuk menyikapi informasi yang dirasa keliru di masyarakat. Ketidaktahuan masyarakat, bukan tidak mungkin dijadikan provokasi sehingga akhirnya akan menyerang pemerintah atau kelompok tertentu. “Oleh karenanya, saya meminta petugas kehumasan, harus diikuti dengan pengkayaan informasi yang harus diperoleh melalui berbagai kesempatan, sehingga informasi yang disampaikan akan benar dan tepat,” pinta Bupati Heru.

Sementara itu, Komandan Kodim 0702 Letkol Arm Jati Bambang Priyambodo yang membawakan materi ‘Ideologi dan Nasionalisme dalam menjaga Keutuhan NKRI’ menyatakan keprihatinannya terhadap anak-anak muda yang mulai luntur dalam upaya bela negara.

“Anak-anak cenderung hafal ketika ditanya soal tokoh penyanyi atau artis. Tapi, ketika ditanya soal lambang negara, nama pahlawan revolusi dan hari-hari nasional tertentu, ternyata tidak bisa menjawabnya. Ini fakta, saat kami melakukan penyuluhan bela negara di sejumlah kecamatan,” kata Jati Bambang. (Humas/y)

Sumber: Purbalinggakab

Tags: , ,
Fatal error: Call to undefined function stt_terms_list() in /home/kotaacom/public_html/wp-content/themes/purbalingga/single-default.php on line 42